Kamis, 11 Februari 2016

Phobia Stand Up Comedy

Banyak yang berpendapat kalau maraknya stand up comedy di pertelevisian Indonesia, bikin jenis komedi ini jadi kelihatan murahan dan kehilangan taringnya. 

Tapi aku nggak begitu sependapat. 

Untuk murahannya, sebenarnya aku sependapat. Cara menyajikanya kebanyakan malah membelokan apa yang sebenarnya dimaksud stand up comedy itu, sehingga jadi kelihatan ngedrama. Disingkapnya hal-hal pribadi komika bikin penonton pengen nanya, 

“Ini stand up comedy apa acara rumpi?” 

Untuk kehilangan taring? Aku malah mikir, taring stand up comedy masih ada, bahkan lebih tajam. Taring itu mampu menggigit semua kalangan buat menikmatinya. Yang nggak punya channel Kompas TV di rumahnya buat nonton SUCI, yang kelewatan Stand Up Comedy Metro TV, yang jadi fakir kuota trus nggak bisa buka Youtube. Nggak hanya masyarakat yang bisa nikmatin keuntungan maraknya stand up, tapi juga para komikanya. Seperti kata Pandji Pragiwaksono

“Supaya lebih banyak panggung tersedia, lebih banyak kesempatan, lebih banyak penonton, lebih banyak rezeki untuk komika Indonesia.” 

Bagiku sendiri, dengan adanya fenomena ini, bikin aku bisa nyembuhin phobiaku. Phobia stand up comedy. 

Ya, phobia macam itu memang nggak ada sih. Yang ada malah phobia-nikah-sama-Ge-Pamungkas-karena-takut-dimadu-soalnya-Ge-itu-ganteng-banget-pasti-banyak-yang-mau-jadi-istrinya.

Tapi dengan sotoynya aku nyiptain jenis phobia itu. Karena tragedi di tahun 2014 lalu.

***
2014

Setelah dua tahun nggak ada nonton open mic dan show stand up comedy lokal lagi, karena Wilda sibuk kerja, akhirnya aku nonton lagi. Kak Ira ngajakin aku buat nonton Arie Kriting dan Mongol Stress di salah satu kafe di Samarinda. Aku baru tau kalau dia ternyata suka stand up comedy dan fans berat Arie Kriting. 

Dan aku baru tau kalau Mamaku bakal ngijinin aku jalan jam sembilan malam, asalkan sama kakak sepupu.

Sisa malam itu. Di-upload biar nggak dibilang hoax. Dihoekin boleh kok

Sejak saat itu, aku kembali jadi penikmat stand up. 

Dua minggu kemudian, aku, Dita, Kak Ira, Kak Indra, Kak Uun dan Kak Fajar nonton TDTB (Tawa Dari Timur Borneo). Nampilin para komika dari Samarinda, Balikpapan, Sangatta, dan Bontang. 

Aku memilih duduk paling depan bareng Dita dan Kak Uun, sementara yang lain udah dapat tempat di belakang. Dita langsung mencak-mencak kesel ngeliat jarak antara tempat duduk dan panggung cuma beda lima langkah.

“Tan! Nanti kalau kita diolokin mereka, gimana? HUAAAA.”

“Kerajinan banget mereka. Nggak bakal. Tenang aja.” Kataku kalem.

Pas bagian komika bernama Kago (nama disamarkan) tampil, banyak yang jadi korban riffing-nya. Ada anak cowok SMA, cewek SMP, sampai..

“Hai, kesini sama siapa?”

Tiba-tiba Kago yang habis nge-riffing anak SMA, langsung nyosor pertanyaan ke aku. 

“Sa-sama temen.” Jawabku gelagapan, kayak kepergok lagi mesum.

“Bagus, jangan pulang dulu ya.” Katanya cepat, lalu berbalik badan dan bikin penonton kembali ngakak. 

Selesai acara, Kago nyuruh aku dan Dita nunggu di luar. Kami mengiyakan. Nggak lama kemudian, dia datang dan minta pin BBM-ku. 

Kirain yang tadi itu bagian dari jokes. Kak Ira dkk ngakak sambil ngeciye-ciyein di telingaku. Sialan. 

Tiga hari kemudian, aku jalan bareng sama Kago. Cuma makan siang bareng, dan Zai juga nggak pernah ngelarang aku buat jalan sama cowok. 

Tapi begitu pulang, aku mikir....

KOK AKU BEGO BANGET YA MAU JALAN SAMA DIA KAYAK ORANG PACARAN GITU?

KOK AKU NGGAK TAU DIRI?

AAAAAAKKK ZAIIII MAAAFF!!!

Habis itu aku nggak ada kontakan sama Kago lagi. 

Kejadian itu sempat bikin aku malu buat nonton open mic yang diadain setiap Jumat malam. Tapi Kak Ira ngeyakinin aku kalau aku nggak perlu malu.

Lagian, open mic-nya seru banget. Komikanya ada beberapa yang kukenal. Eqy, teman sekelasku waktu SMP yang dari dua tahun lalu sampe sekarang masih konsisten stand up. Kak Ikhsan, kakak kelasku sekaligus teman satu angkatannya Kak Ira, waktu SMK.

Dan Clarity (nama disamarkan), komika idolaku, juga idola Wilda. 

Terakhir lihat Clarity, waktu dia di Pre Show 2 SUCI 4. Waktu itu mataku berkaca-kaca, ngeliat wakil Samarinda bisa ada di panggung sebesar SUCI, walaupun nggak sampe final. Sekarang, aku senyum-senyum, ngeliat idolaku itu berdiri di depanku. Dia masih aja berkharisma, dengan muka seadanya.

Lalu, 

“Itu mbak-mbak yang duduk disitu, berdua aja ya? Yang satunya berjilbab tuh.”

Aku sama Kak Ira spontan celingak-celinguk, nyariin mana yang dimaksud Clarity. Nggak ada. Cuma kami yang lagi berdua trus satunya pake jilbab, yaitu Kak Ira. 

“Mbaknya namanya siapa ya?” Clarity nunjuk ke arahku.

“SAYA?” 

“Iya, namanya siapa?”

“Icha.”

“Sama, nama saya juga Icha.”

“Ichantik ya?” tanyaku, mencoba melucu. Padahal lagi nutupin kegugupan. 

“Bukan. Icha aja. Kalau kamu Icha-nya Clarity, kalau aku Clarity-nya Icha.”

What the f. 

Di-riffing sama komika yang selain bikin aku sama Wilda jadi stalker di akun medsosnya, juga jadi stalker di dunia nyata. Karena pernah ada niatan mau ngebuntutin dia pulang cuma buat tau rumahnya dimana. 

HUAAAAAAA!!!!!

Singkat cerita, aku dan Clarity jadi dekat. Clarity mengisi kekosongan hari-hariku dengan banyolan, ledekannya, dan gombalannya di Path, chat Line, dan di telpon. Dia nyariin aku kalau aku telat balas chat. Nggak kayak Zai, yang kayaknya mau nyariin aku kalau aku telat datang bulan. 

Dia ngasih perhatian yang sebisa mungkin aku anggap biasa aja. Ya, sebisa mungkin. Karena jujur, perhatiannya itu terasa istimewa. 

Bisa dekat sama dia itu udah kayak mimpi lama yang baru terwujud. Doa malam yang baru terjawab.

Puncaknya, kami berdua jalan dan nonton. Dia jauh lebih menyenangkan daripada waktu di panggung. Apapun yang ada di sekitar, dia jadikan bahan obrolan mengocok perut.

Sampai akhirnya, aku ngerasa ada kupu-kupu yang mau majrot dari perutku. 

Waktu antri tiket, Clarity nyuruh aku ngikat tali sepatuku yang terlepas. Karena lagi rame dan males nunduk, aku bilang nggak mau. Dia bersikeras nyuruh aku, tapi aku tetap pada pendirian. 

“Kalau diikatkan, baru aku mau,” kataku dengan nada bercanda.

Clarity langsung membungkuk mengarah ke sepatuku. Tangannya dengan cekatan menyeriusi candaanku barusan. 

OMAIGAT. ZAI MANA PERNAH DAN NGGAK BAKAL MAU BEGINI, SIALAAAN! 

Rasa kagumku berubah jadi lebih. 

Hubungan kami semakin intens. Aku jadi mendepak Zai dari pikiranku, dan ngegantiin dia dengan Clarity. 

Tapi lambat laun, aku sadar kalau aku bodoh. Zai pun akhirnya tau karena si bodoh ini mengaku. Sebagai laki-laki yang punya harga diri, dia marah besar. Tapi kayaknya dia nggak punya otak. Dia malah maafin aku. 

Ya, kami berdua memang pasangan yang nggak punya otak. 

Pasca kejadian itu, selain berusaha buat ngembaliin kepercayaan Zai lagi, aku juga berusaha buat ngatasin rasa takutku. Aku ngerasa semua komika lokal tau kebinalanku. Sudah Kago, sekarang Clarity. Pas beberapa kali nonton open mic, aku sering nundukin pandangan. Ketawa sekalem mungkin. Aku takut. 

Terakhir kali nonton, waktu show-nya Ernest Prakasa. Saking takutnya, aku nyaris pipis di celana.

***

Ya, sekarang aku udah nggak phobia stand up comedy lagi. Karena stand up udah banyak di acara-acara TV. Juga karena, aku harus memaafkan diriku sendiri, yang sempat sebinal itu. 

Film Ngenest mengajarkan bahwa hidup kadang perlu ditertawakan. Kalau boleh, aku mau nambahin, 

“Dan hal-hal yang ditertawakan nggak perlu diseriusin. Misalnya candaan temen, gombalan cowok PHP, atau rasa kagum kita ke komika.”

Sialan, gara-gara GA-nya Yoga, jadi nulis aib beginian deh. 

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 08 Februari 2016

Jika Kelamin Kita Tertukar

Jika kelamin kita tertukar, aku lelaki dan kamu perempuan. 

Mungkin aku adalah lelaki tergugup sedunia. Gugup ketika disapa, ditatap, didekati. Entah itu gugup atau takut memulai hubungan lagi. Sampai akhirnya bertemu denganmu, perempuan yang tak kenal takut.  Dengan mata yang menyipit ketika tersenyum atau tertawa. Menyapa, mendekati, mengajak ngobrol semua orang pada waktu itu, termasuk aku, seorang lelaki yang menyambut uluran tanganmu dengan canggung.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling cupu, karena berlaku apa adanya. Berawal dari ajakan kumpul anggota komunitas setiap malam Minggu, dan akhirnya kamu tau aku adalah anak rumahan yang tidak selalu bisa keluar malam. 

Lalu kita mengobrol hal-hal random, dari sekolahku, kuliahmu, musik, film, iklan di TV yang sedang hits, sampe soal Sinta & Jojo. Dan aku nyaman. 


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling tak tau diri. Merindukanmu. Padahal kamu milik lelaki lain. Aku sedih, kecewa, murka, dan benci padamu karena selama kita mengobrol, kamu seolah bukan milik siapa-siapa. 

Tapi nyatanya aku masih dengan kurang ajarnya merindu. Mendengarkan lagu Orang Ketiga-nya HiVi! sambil bercucuran air mata. Lemah sekali.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki yang membenci persaingan. Kalah sebelum berperang. Pergi menjauh setelah merasa salah merindukan kekasih orang. Lagipula, itu perang macam apa? Merebut milik orang lain. Kalau mati, tidak bakal jadi mati syahid.

Dan selang berbulan bulan kita menjauh, kamu datang mengacaukan hidupku lagi, dengan pernyataan hubunganmu dan lelakimu itu sudah berakhir.  Membuatku kembali merasa benar. Dasar kau perempuan sialan!


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling tak tau malu sedunia. Mengejarmu. Menanyakan hubungan kita ini sebenarnya hubungan macam apa.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling bersikeras untuk romantis. Dan kamu adalah perempuan yang menganggap, bahwa romantis itu hanya seputar gombalan dan bualan. Menganggap dengan gelak tawa mengejekmu. 


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling melankolis sedunia. Overthinking tentangmu, merencanakan yang indah tentang kita ke depan, mengeluhkan hubungan kita yang sebenarnya baik-baik saja. 

Dan kamu adalah perempuan paling kurang kerjaan, yang memanfaatkan kemelankolisanku itu untuk menjahiliku. Menunggu  sampai aku menampakan muka cemasku, lalu kamu tersenyum jahil. Disusul dengan tawa sambil memberitahu itu hanya bercanda. Tawa yang menyebalkan, tapi anehnya selalu aku rindukan.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki yang paling benci dengan kalimat,

 "Nggak papa," 

Keluar dari mulut seorang perempuan. 

Aku benci, dan tambah benci saat kamu yang mengucapkannya. Aku benci kamu yang tidak terus terang. Aku benci kamu yang selalu membuatku menebak-menebak apa yang sedang kamu rasakan. Aku benci saat kamu memaksaku untuk melupakan hal itu. Melewatkannya dengan membicarakan hal-hal lain. Atau parahnya, pergi berlalu dari hadapanku.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling brengsek. Aku menyalahi kepercayaanmu padaku. Hanya karena aku merasa dimiliki ketika bersama dia. Sedangkan kamu tak pernah mengekang, apalagi cemburu. Membuatku merasa tidak dimilikimu.

Tapi satu hal yang aku tak tau, kamu adalah perempuan yang sangat percaya pada lelakinya. 

Bodohnya, aku merusak itu semua. 

Dan entah apakah kamu ingin jauh lebih bodoh dari aku, kamu mau memberi lelakimu kesempatan kedua. Memaafkan, memulai semuanya dari awal, walaupun tak bisa melupakannya begitu saja. 

Aku tau aku salah. Aku terlalu naif. Aku tak bersyukur atas adanya kamu. Ingin rasanya kamu bunuh aku saja. Cengkeram kerah kemeja flannelku, hempaskan badanku ke dinding, lalu hunus aku dengan pisau, tepat di jantung. 


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki paling lemah. Ketika kamu bilang ingin bekerja di tempat yang jauh setelah lulus kuliah, aku merasa akan tidak kuat menjalani hubungan jarak jauh. Belum mencoba, aku sudah merasa dikalahkan oleh jarak. 

Tapi melihat matamu yang meyakinkanku kalau kita bisa, memberiku kekuatan. Kita pasti bisa menjalaninya. Mungkin ini harga yang harus dibayar, kalau masih mau bersama.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin aku adalah lelaki yang paling ingin menjagamu. Paling ingin menjadi yang kamu butuhkan. Paling ingin merentangkan tangan lebar-lebar saat kamu pulang. Paling ingin pundaknya jadi tempatmu bersandar melepas lelah.


Jika kelamin kita tertukar, mungkin tak perlu kelamin kita sampai tertukar. Menyeramkan.


Mungkin aku sudah menyalahi kodrat sebagai perempuan yang dipacari. Yang biasanya dikejar, diberi perhatian, diberi hal-hal romantis. Namun aku sudah terlalu asik dengan salahku ini.


Mungkin kamu lelaki yang memang mengejarku, memberiku perhatian, memberiku hal-hal romantis. Hanya saja, aku tak sadar.


Mungkin kita punya cara masing-masing dalam mencintai.


Jangan pernah berubah, ya. Apalagi kelamin kita yang berubah.


Selamat tiga tahun, kita.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 02 Februari 2016

Manusia Merencanakan, Tuhan Menentukan, Icha Bikin Syukuran

Selain berita tentang seorang pria yang ereksi selama lima hari karena overdosis Viagra, dan itu dia lakukan cuma demi bercanda sama teman-temannya, dulu aku juga sempat dibuat merinding sama berita tentang calon penumpang pesawat yang selamat dari kecelakaan maut. 

Para calon penumpang itu lolos dari maut karena nggak jadi melakukan perjalanan pake pesawat itu. Seandainya rencana mereka berjalan lancar, nggak ada penghalang macam ketinggalan pesawat, kehabisan tiket, atau belum adanya aplikasi Traveloka yang memudahkan mereka buat booking tiket pesawat, udah pasti mereka jadi korban dari kecelakaan pesawat itu. Mereka selamat, karena kegagalan rencana mereka. 

Merinding, sekaligus terharu. Rencana manusia digagalkan Tuhan, demi kebaikan manusia itu sendiri. 

Sebagai manusia, udah pasti kita pernah (sampe sekarang pun) punya banyak keinginan dan rencana dalam hidup. Tapi nggak semuanya berhasil, trus ngalamin kegagalan. Kegagalan yang bikin menyesal, kegagalan yang bikin sedih, kegagalan yang jadi motivasi, atau kegagalan yang nimbulin hasrat pengen bikin syukuran. 

Aku juga pernah ngalamin kegagalan yang patut disyukuri. Ya, walaupun nggak sefantastis kayak di atas, yang sampai menyangkut hidup dan mati. Tapi kalau ingat kegagalan-kegagalan ini, bawaannya pengen sujud syukur aja. 

Langsung aja, 


1. Gagal punya rambut ala Skrillex

Waktu kelas dua SMK, aku pengen banget punya potongan rambut kayak DJ Skrillex.

Sebenarnya bukan karena ngefans sama Skrillex, tapi karena terpesona sama Cassie, model MV Roll Up-nya Wiz Khalifa. Udah lagunya bagus, modelnya juga bagus. Cantik maksudnya. 

Sumber: disini
Dengan kulit coklat eksotis, badan bohay, dan potongan rambutnya yang unik, model MV yang berprofesi jadi penari itu bikin aku pengen mantengin channel MTV mulu, berharap MV itu bakal diputar lagi. 

HUAAAA CASSIE! YOU’RE SO FUCKIN’ BEAUTIFUL! I LOVE YOU! AKU TRESNO KARO KOWE! (lah, kenapa jadi bahasa Jawa?)

Ditambah lagi Rihanna, Avril Lavigne, dan Kesha ternyata juga cukur rambut kayak gitu. Di mataku, mereka makin keliatan cantik dengan rambut belah pinggir tergerai panjang, dan sisi kirinya dicukur habis. Aku juga baru tau, ternyata mereka terinspirasi sama DJ bernama Skrillex. 

Aku tambah jatuh sayang sama potongan rambut itu. Tiap malam, bukannya ngitungin domba supaya cepat terlelap, malah ngitungin berapa persen kadar kekerenanku kalau misalnya aku pake crop tee, celana jeans belel, sepatu keds, dan berpotongan rambut ala Skrillex. 

Dengan penampilan kayak gitu, aku bisa pede nge-beatbox dan ngerap, trus Eminem ngangkat aku jadi anaknya. BAHAHAHAHAHAHAHA.

Aku pun bertekad manjangin poniku yang biasanya selalu sealis, jadi sedagu. Begitu udah panjang, tinggal cukur deh.

Di proses pemanjangan poni, ada teman sekelasku yang pengen punya potongan gitu juga, dan berhasil ngewujudinnya, yaitu Owi. Di akun Facebook-nya, aku ada ngeliat foto, dia berpose lagi di atas bukit sambil mamerin sisi kiri rambutnya, yang tercukur habis tapi nggak sampe plontos. Sementara sisi kanannya, masih ada rambut lebatnya yang panjang dan tergerai indah. 

HUAAAAAA! ITU RAMBUT GUEEEEEEE! 

Aku sempat nggak habis pikir sama Owi. 

Sebenarnya dia kepentok izin orangtuanya, tapi dia tetap ngecukur rambutnya ke salon. Trus sebisa mungkin dia nyembunyiin cukurannya itu, dengan natain rambutnya yang belah pinggir jadi belah tengah kalau lagi di rumah, biar cukurannya nggak keliatan. Di sekolah, dia juga bisa nyembunyiin cukurannya dengan hijab, karena dia kalau ke sekolah memang berhijab. 

Owi dan aku punya keinginan dan tipe orangtua yang sama. Orangtua yang nggak ngebolehin anak buat cukur rambut kayak gitu. Ya, kayaknya semua orang tua bakalan nggak kasih ijin sih. 

Tapi Owi berhasil, berkat kenekatannya. 

Caranya boleh juga sih. Tapi begitu ingat kalau aku tidurnya sekamar sama Mama (dan Nanda) dan posisi tidurku suka berganti nggak menentu, aku yakin kenekatanku nggak bakal seberhasil Owi. 

Takutnya pas tidur, rambutku tersingkap trus cukuranku jadi keliatan. Udah bisa ditebak, kalimat-kalimat mengutuk macam apa yang bakal keluar dari mulut Mama. Dan pas bangun tidur keesokan harinya, aku jadi membatu di tempat tidur. THE END.

Lantas aku keingat Bapak. Beliau selalu sehati sama aku, mungkin aja nggak terkecuali sama keinginanku ini. Lagian kalau aku udah ngantongin izin dari Bapak, pasti Mama nggak bisa berkutik. Bukankah istri itu harus tunduk sama suami? Pikirku waktu itu, dengan senyum kemenangan. 

Aku langsung nelpon Bapak. 

“Kau mau potong seperti laki-laki?”

“Tapi nggak cuma buat laki-laki kok, Pak. Cewek juga banyak. Bapak tau kan yang main di Battleship? Rihanna? Dia potong gitu juga loh. Boleh ya, Pak?”

Ada hening yang cukup lama. Antara karena beliau lagi ngingat-ngingat kembali potongan adegan film Battleship yang ada Rihanna-nya, berpikir keras bakal kasih izin apa enggak, atau cuma mau bikin aku deg-deg an. 

“Tanya Mama kau saja.”

“Hah? Lah, Icha nih nelpon Bapak, biar Mama ngizinkan. Ngapain lagi nanya Mama?”

“Kau ini macam tak tau Mama kau saja. Bapak kalah kalau berdebat dengan dia tuh. Sudah, pokoknya tanya Mama kau saja!”

Tut tut tut. 

Telepon terputus. Memunculkan anggapan baru, kalau ternyata Bapak itu suami yang kelewat nurut, atau suami yang takut istri. Entahlah. 

Perjuanganku buat ngedapatin rambut ala Skrillex berhenti sampai disitu. Poniku yang nyaris sehidung itu kupotong jadi sealis. Bersamaan dengan rencanaku yang gagal total.

Bertahun-tahun kemudian, aku baca berita kalau rambut Skrillex itu dinobatkan jadi rambut terburuk sepanjang abad 21. Tepatnya rambut Rihanna, yang meniru rambut Skrillex. Aku juga baru tau kalau Islam ngelarang keras perempuan berpotongan rambut mirip laki-laki. Lagian, rambut yang dicukur gitu, kalau numbuh bakalan keliatan aneh. 

Pas tau semua itu, aku cuma bisa ngakak. Syukurlah kalau gagal.


2. Gagal sekelas sama Nina
Nina adalah sahabatku dari SMP. Pas masuk SMKN 1 bareng, aku pengen kami jadi best friend forever, dengan cara sekelas lagi kayak waktu SMP dulu. Kami ngerencanain bakal duduk sebangku. Bakal bawa bekal setiap hari, trus uang jajannya dipake buat ngemall tiap pulang sekolah, ngeborong aksesoris rambut dan gelang-gelang warna pink. 

Cetek banget ya impian anak SMK. 

Tapi rencana kami gagal karena papan pengumuman pembagian kelas. Begitu tau kalau kami nggak sekelas, spontan aku nangis kejer melukin Nina. 

Ya, dulu aku memang punya kebiasaan suka melukin Nina di kondisi apapun. Tapi perasaan, itu pelukan paling dramatis yang pernah aku lakuin sama Nina. Oh iya, sama yang waktu minta maaf berlebihan itu juga. Intinya waktu itu aku nangisnya udah kayak anak yang mau dijual orangtuanya ke Batam. 

Selama setengah semester, aku nyedihin soal gagal sekelas itu. Sedih, di SMP kami lengketnya udah kakak-adek, jadi nggak lengket gara-gara beda kelas. 

Tapi akhirnya aku bersyukur, karena kalau aku sekelas sama Nina, aku bakalan jadi orang yang bergantung sama Nina mulu. Aku bakal maunya temenan sama Nina aja, nggak mau temenan sama yang lain. 

Kalau rencanaku itu nggak gagal, aku nggak bakal akrab sama Dea, cewek yang mudah antusias sama apapun, yang ternyata rumahnya nggak jauh dari rumahku. Aku nggak bakal ngalamin kejadian-kejadian memalukan bareng Reny, cewek sabar yang bakal jadi pemarah begitu tau aku masih suka mikirin mantan. 

Aku nggak bakal duduk sebangku bahkan sering bertukar pikiran sama Dina, cewek tomboy yang cantiknya kayak Kimberly Ryder itu. Sahabat yang udah kayak malaikat berbulu iblis, karena paling peduli sama aku di balik kata-kata sinis yang sering dia ucapin. Aku nggak bakal dapat sahabat macam Dita, yang udah aku anggap kayak adek sendiri.

Aku nggak bakal ngerasain kebahagiaan dikelilingi orang-orang yang sayang sama aku, kalau rencanaku berhasil. 


3. Gagal ke Bontang
Tahun kemarin, aku ada ngerencanain mau ke Beras Basah Bontang bareng Zai. Rencana yang aku susun sendiri, dan bakal langsung kulontarkan begitu anak itu cuti pulang ke Samarinda, bulan Juli. Mau nggak mau dia pasti bakal nurut sama aku kalau udah ditodong rencana itu di depan mata. 

Tapi sekitar awal Juli, maagku kambuh parah. Puncaknya pas pertengahan bulan Juli, tepatnya lebaran hari kedua, aku masuk rumah sakit dan diopname selama seminggu. Rencanaku langsung gagal total. Tambah ngerasa gagal total pas aku tau kalau dia lagi di Beras Basah Bontang, bareng teman-temannya. Di hari pertama aku diopname. 

Kesal banget. Dasar lelaki bajingan! Sakit maag dan demamku bercampur sama sakit hati. Aku bukan cuma sakit hati sama dia, tapi juga sakit hati sama penyakitku. Datangnya di saat yang nggak tepat banget. 

Dua hari kemudian, dia pulang dari Bontang dan ngejengukin aku. Dia minta maaf karena mendadak pergi ke Beras Basah, dan dia nggak nyangka aku bakal masuk rumah sakit. Sebenarnya bukan nggak nyangka, tapi gimana ya, soalnya dengan senyum mengoloknya dia bilang, 

“Akhirnya masuk rumah sakit juga.”

Malam itu, dia ngejagain aku semalaman di rumah sakit. Dan malam itu, aku jadi tau, walaupun dia orangnya cuek, tapi dia sayang sama aku. Huehehehehe. Hoek. 

Aku bersyukur sama kegagalan rencanaku sama dia ke Beras Basah Bontang. 

Kalau seandainya rencana itu berhasil, dan itu misalnya bareng teman-temannya, mungkin nggak bakal berkesan daripada waktu di rumah sakit. Bisa aja pas disana, dia nyuekin aku karena lebih asik sama teman-temannya. Dan aku disana, mau nggak mau sibuk mainin dildo demi menghibur diri. 

Untung aja rencana itu gagal. 


4. Gagal nyelesain cerpen
Cerpen WIDY baru sampe di bagian keempat. Kami ada berencana buat posting bagian kelima, tapi berhubung Wulan, aku, Darma, dan Yoga lagi ada kesibukan masing-masing, hal itu pun jadi ketunda. 

Yoga sibuk UAS dan cari kerja. Darma sibuk kelarin skripsi. Wulan sibuk mikirin siapa jodohnya. Eh, sibuk mikirin tugas di semester duanya. Sedangkan aku sibuk cari gadun yang bisa terima aku yang bukan dedek gemes ini. 

Maka, kami pun gagal buat nyelesain cerpen secepatnya. 

Sebagai gantinya, kami berencana nyeriusin permainan kalimat kami yang lain, yaitu bikin tulisan bertema. Pertengahan bulan ini mulai jalan. Kami berempat bakal serempak bikin tulisan dengan tema yang sama, yang Insya Allah diposting di hari yang sama juga. Lumayan, buat makin ngasah kemampuan nulis kami, sekalian pemanasan sebelum posting cerpen lagi. Lebih lumayan lagi buat Darma, yang blognya berdebu karena udah lama ditinggal sama penghuninya. Huahaha. 

Kegagalan yang satu ini lagi-lagi bikin aku bersyukur. Kami jadi makin akrab dan bersemangat nulis. Ceilah. 


Segitu aja sih kegagalan yang bisa aku syukuri. Sisanya, masih banyak. Cuma pada ngenes sih. 

Tapi dengan nulis ini, aku jadi mikir, selain bisa mendapatkan hikmah atau pelajaran, kita juga mendapatkan karunia dan rasa syukur yang teramat banyak dari kegagalan. Gagal nggak selamanya buruk. Dan nggak selamanya berhasil itu baik. 

Seperti firman Allah di Surah Al-Baqarah ayat 126,

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Iya sih, kita sebagai manusia nggak tau, sama sekali. Manusia kebanyakan suka ngutukin kegagalan. Apalagi kalau gagal keluarin di luar, malah keluar di dalam.

Btw, ada yang pernah ngalamin kegagalan trus pengen bikin syukuran juga?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sabtu, 30 Januari 2016

Perubahan Karena Mantan

Sebagai pecinta musik, Syarifatul Adibah pernah bilang di postingannya yang INI, kalau kita bisa tau lebih dalam tentang orang lain lewat lagu-lagu yang orang itu dengerin. 

Kalau aku boleh nambahin, kita juga bisa kepengaruh sama lagu-lagu yang kita dengerin. 

Entah itu berlaku ke semua orang apa nggak. 

Yang jelas, lagu-lagu Maroon 5 ngasih pengaruh ke aku. Aku jadi punya impian pengen punya suami kayak Adam Levine, yang jambangnya bisa dielus-elus pas lagi tidur bareng. Trus dia nyanyiin lagu Nina Bobo dengan suara khas high-pitched-nya dan sengau-sengau dikit. Uuuuuh. Bikin geli-geli basah dengernya. 

Lagu-lagu Eminem mempengaruhi aku buat suka mengumpat kalau lagi kesal. Misalnya kuota habis pas lagi asik streaming drama Thailand, trus ngumpat, 

"Fak.....tur pembelian! Harus beli kuota lagi kan!" 

Dan masih banyak lagu-lagu yang ngasih pengaruh ke aku. 

Pengaruh yang biasa aja sih. Nggak seluar biasa (atau lebih tepatnya seaneh) pengaruh yang Nanda dapat dari satu lagu, seminggu yang lalu. 

Waktu itu aku dan Nanda ngeliatin music video Hands To Myself-nya Selena Gomez dengan khidmat. Lagu terbaru dari mantan pacar kembaran Darma, Justin Bieber itu menurutku bagus, dengan aliran sesat dance pop dan synthpop. Bikin yang dengerin jadi pengen goyangin pinggul sambil ngegrepe-grepe diri sendiri. 

Sepanjangan ngeliatin MV-nya, aku nggak berhenti nyerocos. Ngagumin Selena yang cantik dengan poni dan rambut hitamnya, nyirikin badannya yang yahud, dan nyangka-nyangkain Justin Bieber bakal nyesal putusan sama mantannya itu. Sementara Nanda bergeming. Dia nontonin MV itu tanpa ekspresi. 

Begitu selesai dan aku mau liat MV terbaru lainnya.....

"Ndese, saya mau kayak Selena Gomez!" 

Pandanganku yang dari hape langsung teralihkan ke asal suara. 

"Maksudnya? Mau sembarangan masuk rumah orang cuma pake dalaman aja gitu?" 

"Bukan. Mau badan kayak Selena Gomez. Kau betul, Ndes. JB pasti nyesal putusan sama Selena. Selena makin cantik sekarang. Saya mau berubah juga. Saya mau buat anak itu menyesal!" jawab Nanda berapi-api. 

Aku cuma bisa mendengus, trus kembali fokus ke hapeku. Di satu sisi agak kesel kenapa lagu Same Old Love yang aku perdengarkan buat bikin Nanda move on nggak ngaruh. Di satu sisi lain, aku pengen ngetawain niat anehnya itu. 

Besoknya, Nanda merengek ke Mama minta dibikinin jamu penambah nafsu makan. Ramuan jamu yang terdiri dari kunyit, kuning telur ayam kampung, dan madu itu kemudian jadi minuman rutin Nanda tiap pagi. Ternyata dia nggak main-main sama ucapannya. 

Sebenarnya nggak lama habis itu, aku juga ikut minum. Tapi sampe sekarang yang keliatan hasilnya itu ya dia. Berat badannya lumayan, naik 3 kilogram. Tulang belikat yang biasanya menonjol mulai tenggelam. Mukanya yang tirus jadi agak tembeman. Hobinya yang dari gerayangin hape jadi gerilya kulkas. 

Trus porsi makannya saingan sama Mamaku. Kalau sore dia gelisah sendiri nyari cemilan. Kadang juga tega-teganya rebutan snack sama Khansa dan Tasya, dua keponakan. 

Aku sih senang-senang aja dia nggak malas makan kayak aku, jadi aku nggak perlu dengar Mama ngomelin atau maksa Nanda makan lagi. Akhir-akhir ini frekuensi ngomel Mama berkurang berkat Nanda. Ya walaupun tetap ngomelin aku juga sih. 

Tapi ngeri juga, takutnya ntar dia balik kayak dulu lagi waktu minum obat penggemuk badan.

Kayak gini, 

Sumpah, ini bukan karena kena virus flu babi kok
Trus bikin Mama teriak, 

"Sudah-sudah pang makannya, Nda! Beras habis nah!" 

Ngeri. Jangan keulang lagi, please

Dan ngeri juga sih, segitu besar pengaruh musik terhadap Nanda. 

Oke, mungkin lebih tepatnya pengaruh mantan. 

Segitu besar pengaruh mantan terhadap Nanda, sampai bikin dia berniat buat gemukin badan. Niat yang muncul bukan karena dorongan Mama, kayak dulu. Waktu kami dicekoki obat penggemuk badan Tiongkok sialan itu. Tapi niat yang muncul dari dirinya sendiri, karena sakit hati. 

Ya, Nanda adalah salah satu dari banyaknya kaum sumo -susah move on- yang bertebaran di muka bumi ini. 

Mungkin sekarang dia udah bisa lupain kenangan indah bersama si mantan, tapi dia nggak bisa ngelupain rasa sakit hatinya. Mantan yang mutusin dia tiba-tiba, dengan alasan pengen lebih fokus kuliah dan belum siap berkomitmen sama orang. Yang tambah bikin sakit hati, baru-baru ini si mantan udah punya pacar lagi. Dan pacar barunya si mantan, yaitu teman kuliah mereka juga. Jadilah si Nanda bisa dengan leluasa mergokin si mantan dan si pacar baru mantan mesra-mesraan di sudut kampus. 

FOKUS KULIAH NDASMU! 

Ternyata nggak cuma LDR aja yang bisa jadi turun temurun (Mamaku LDR, aku LDR juga), diputusin pacar juga bisa. Aku juga pernah diputusin dengan alasan pengen fokus, fokus sekolah. 

Aku jadi mikir, setiap cewek kayaknya punya niatan buat ngubah penampilan setelah putus sama pacar. Contohnya aja si Selena Gomez. Perasaan dulu dia nggak secantik itu. Perasaan dulu lagu-lagunya ngebosenin, nggak kayak sekarang yang easy listening semua. Iya nggak sih? 

Dan yang cowok-cowok, udah sering kan, ngeliat mantan kalian jadi cantik banget setelah putus? 

Nanda terilhami akan hal itu. Berusaha berubah jadi cantik supaya mantan menyesal. Tapi kayaknya nggak bakal berubah jadi cantik deh itu anak. Makin nyebelin sih iya. Karena dia jadi pelit kulit ayam goreng. Makanan yang biasanya dia ikhlaskan untuk aku makan, malah dia embat juga. 

Selain penampilan, mantan juga bisa mengubah sikap, perangai, dan bagaimana kita ke depannya. Untuk perubahan yang buruk kayak yang dari ceria jadi murung, dari yang punya semangat hidup jadi pengen mati aja, bla bla bla bla itu nggak usah disebutin (lah trus tadi apa kalau bukan disebutin?) kali ya. 

Ada yang setelah putus, jadi kapok pacaran, trus jadi selektif dalam mencari pacar dan akhirnya langsung dilamar, dan hidup bahagia selamanya. 

Ada yang dari antisosial, maunya kemana-mana sama si pacar, setelah putus jadi easy going dan punya banyak teman. 

Ada yang dulunya bukan siapa-siapa, setelah putus trus ngelahirin karya misalnya buku, lagu, atau film, yang terinspirasi dari pahitnya putus cinta, dan akhirnya jadi orang yang dikenal dimana-mana. 

Nggak bisa dipungkiri, mantan memberi perubahan buat kita. Dan nggak selamanya, putus dengan pacar melahirkan perubahan yang buruk. 

Mungkin memang, waktu awal putus, mantan adalah orang paling bajingan. Luka ditinggal pacar atau diputusin tiba-tiba itu teramat sakit. Tapi suatu saat, kita pasti bersyukur dengan adanya luka itu. Berterima kasih pada pemberi luka. Membiarkan dendam dan sakit hati itu pergi tertiup angin. 

Karena sesialan-sialannya mantan, secara nggak langsung dia udah jadi motivator kita buat menuju ke perubahan yang lebih baik. Minimal, ngebuat kita belajar akan sesuatu. Meskipun ‘cara’ mengajarinya cukup brutal. 

Seperti yang seseorang pernah bilang ke aku, “Mantan bisa bikin kita belajar mendewasakan diri, tanpa perlu nonton film dewasa.” 

Btw, buat siapapun, semoga cepat move on. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 26 Januari 2016

Jadi Mama Atau Mommy?

Naluri baper blogger-ku kumat begitu menghadap laptop seharian, hari Sabtu kemaren. Baper blogger adalah jenis blogger yang kalau dengerin lagu atau nonton film, selalu kebawa perasaan. Trus jadiin postingan, ngait-ngaitin lagu atau film itu sama dirinya sendiri. Jenis blogger aneh yang aku bikin sendiri, karena aku sering ngerasa seaneh itu. 

Hari itu, aku nonton film Mommy. Film Kanada keluaran tahun 2014 itu bikin aku tertarik buat download, karena cover filmnya, rasio filmnya, dan sutradaranya. 


Cover filmnya bikin aku mikir, 

“Ini film tentang kasih sayang Ibu sepanjang masa atau cinta terlarang anak dan Ibu yang bikin mereka menjalin inses?"

Trus rasio filmnya. Sebelum download, aku baca beberapa review tentang Mommy. Rata-rata pada ngagumin rasio filmnya yang nggak wajar, yaitu 1:1. Nggak memenuhi layar. Mirip-mirip kayak kalau lagi ngerekam adegan panas pake hape, dengan posisi vertikal. Adegan numpahin kopi panas ke cangkir maksudnya. 



Terakhir, sutradaranya. Aku pikir sutradaranya kayak Alm. Om Stanley Kubrick, Om Tim Burton, Om David Lynch, atau Om Christopher Nolan, pokoknya tua-tua matang, kalau dilihat dari judulnya yang tentang keluarga gitu. Drama. Ternyata, sutradaranya masih muda. Umurnya masih 26 tahun. Ganteng. Badan proporsional. Jambangan. TIPE HAMBAMU INI BANGET, YA ALLAH. 


Dan begitu nonton filmnya, aku makin punya banyak alasan kenapa aku tertarik.

Mommy nyeritain tentang seorang single-parent bernama Diane “Die” Despres, punya anak bernama Steve, anak laki-laki berumur 16 tahun, yang mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), atau yang biasa dikenal dengan hiperaktif. Oh, atau lebih parah dari hiperaktif. Karena Steve nggak segan berkata kotor sama siapapun, selalu pake kekerasan, cepat tersulut emosinya. Parahnya lagi, dia jadi penyebab insiden kebakaran di tempat rehabilitasinya. 

Gara-gara insiden itu, Steve harus dipulangkan. Dan adegan selanjutnya film ini, kita disuguhkan dengan kehidupan Steve dan Diane di rumah sempit mereka. Dengan kenyataan Diane dipecat dari pekerjaanya. Dengan emosi Steve yang suka meluap-luap sampe tega ngelukain Ibunya sendiri. Dengan kenyataan kalau betapa menderitanya Diane harus sendiri mengurus anaknya. Dengan keajaiban datangnya bantuan dari tetangga misterius bernama Kyla, wanita gagap yang bersedia jadi guru buat Steve. 

Kelihatannya filmnya bikin banjir air mata, dan ngebosenin. Padahal enggak sih menurutku. Temanya memang drama, tapi penyajiannya nggak drama. Sumpah. 

Nggak ada adegan kayak di sinema Indosiar, yang anaknya marah trus orangtuanya diam pasrah terima aja dimarahin si anak. Steve kasar, Diane juga nggak kalah kasar. Mereka saling teriak, saling ngomong kotor, saling ngatain, saling nyakitin secara fisik. Hubungan Ibu-anak yang ekstrem, nggak normal. Unsur pedih dan menyentuh film ini ditunjukan dengan rasionya itu. Kita jadi ikut ngerasain sesaknya hidup Diane dan Steve lewat rasio itu. Serius. Dan begitu hal-hal indah datang, beban Diane berkurang, rasionya jadi normal. 

Kelihatannya si Steve ini nyebelin. Banget. Tapi semakin lama nonton filmnya, aku jadi suka sama sosok Steve. Dengan ADHD-nya, dia masih punya naluri sebagai anak yang pengen ngelindungin Ibunya. Dia memang suka ngatain Ibunya, misalnya, 

“Tenang, kau masih jadi favoritku, tukang pukul anak.” 

Entah kenapa aku malah ketawa, sekaligus terharu. 

Kelihatannya Diane itu bukan Ibu yang baik. Perokok, suka ngebentak, ngomong kasar, blak-blakan. Tapi dia sayang sama anaknya. Dia rela ngelakuin apapun buat anaknya. Diane nggak keliatan sendu buat nunjukin penderitaannya. Diane nggak harus nunjukin secara dramatis rasa sayangnya sama Steve. Diane sudah nunjukin itu, dengan cara anehnya sebagai Ibu. 

Aku jatuh sayang sama film ini. Ditambah lagu sama deretan original soundtrack-nya yang keren-keren. 

Ada lagu-lagu yang memang udah jadi favorit, yaitu White Flag-nya Dido, Anything Could Happen-nya Ellie Goulding, dan Born To Die-nya Lana Del Rey. Dan ada lagu yang jadi favoritku gara-gara film ini, yaitu Wonderwall-nya Oasis, Colorblind-nya Counting Crows dan On Ne Change Pas-nya Celine Dion.

Selesai nonton film itu, aku jadi keingatan Mama. Lebih tepatnya, hubunganku sama Mama. 

Menurutku, Mama terlalu dramatis dalam nunjukin rasa sayang ke anaknya. Pas di hari Sabtu itu juga, Mama nggak kasih aku ijin buat jalan sama teman-teman SMK-ku. Teman-temanku yang udah beliau kenal baik. Alasannya.... 

“Bahaya, anak cewek bawa motor sendirian malam-malam. Kalau kamu diperkosa di jalan, kayak apa?” 

Begitu aku bilang itu ke teman-temanku, mereka menanggapi sekenanya. 

Mungkin dalam hati mereka bilang, 

“Ya ampun Icha, dari jaman sekolah sampe udah kepala dua gini masih aja nggak boleh bawa motor. Atau keenakan dijemput kali ya itu anak.” 

HUHUHUHUHUHU. 

Nanda yang hari Minggu kemarin mau pergi karaoke bareng teman-teman kuliahnya, harus gigit jari karena nggak dapat ijin. 

“Banyak orang bepacaran di tempat karaoke tuh. Tempat karaoke itu tempat zinah!” 

Begitu alasan beliau pas Nanda maksa-maksa supaya boleh. Aku yang dengar itu cuma bisa garuk-garuk pantat, trus melenggang anggun ke kamar. Nggak bisa ngebantuin adekku itu. 

Aku nggak habis pikir sama Mama yang ngelarang kami kayak gitu. 

Aku nggak habis pikir sama Mama yang ngelarang aku pergi ke Bukit Biru bareng Ikhsan, Dita, dan teman-temannya Ikhsan. Padahal tempatnya cuma di Tenggarong, satu jam dari Samarinda. Nggak perlu sampe menyeberang samudera naik kapal pesiarnya gadun. 

Dan masih banyak larangan jalan lain. 

Aku nggak habis pikir sama Mama yang selalu nyuruh (atau lebih tepatnya maksa) aku makan, kayak nggak bisa ngeliat aku ngelakuin aktifitas lain selain ngunyah makanan. 

Aku nggak habis pikir sama Mama yang nyuruh tidur cepat, padahal aku belum ngantuk. Mama sampe mutusin buat tidur sekamar sama aku dan Nanda (jadinya kami tidur bertiga dalam satu kamar) cuma demi mantau kami udah tidur apa belum. Tapi biasanya aku tetap nggak tidur cepat sih, nunggu ketiduran. Itupun kalau masih blogging atau mau gerayangin hape, harus mastiin beliau udah tidur apa belum. Kadang aku harus pura-pura tidur kayak bangkai kalau beliau tiba-tiba kebangun, pas dengar bunyi notifikasi chat dari hapeku yang lupa di-silent. 

Selain ‘menentang’ larangan yang satu itu, aku juga pernah nentang larangan belajar naik motor. 

Berhubung guru belajar naik motorku, yaitu Bapak, jarang pulang, aku khawatir kalau aku nggak bakal bisa naik motor dalam waktu dekat. Waktu SMK kelas dua, aku mutusin buat belajar sama temanku aja. Dengan nekatnya, setiap habis shalat Shubuh, aku belajar naik motor sama temanku, Sahid. Mama ngelarang aku, tapi nggak aku gubris. 

Tindakan durhakaku (ini aku ngetiknya ngerasa kotor banget) lainnya yaitu nggak bisa terbuka sama Mama. Setiap ada masalah, aku selalu lari ke Kak Fitri. Mama yang selalu panikan dan selalu ngerasa aku nggak bisa nyelesain masalahku sendiri, bikin aku nggak terbuka sama beliau. Dari dulu sampai sekarang. Waktu kehilangan pekerjaan kemarin aja, Mama adalah orang terdekat terakhir yang aku kasih tau. 

Anak macam apa aku ini.... 

Nggak jarang, aku sering pasang tampang cengengesan kalau lagi pengen ngucurin air asin dari mata. Atau milih pergi kalau ditanya soal masalahku. Bukan karena nggak pengen bikin beliau jadi ikutan sedih, tapi karena pengen dianggap udah dewasa, udah bisa tegar ngehadapin apapun. Udah bukan anak kecil lagi. 

Aku tau, jadi seorang Ibu memang nggak mudah. Aku tau, itu bentuk sayang dari Mama, yang ngurus anak-anaknya tanpa Bapak yang jauh di perantauan. Aku tau, itu bentuk dari teguhnya Mama ngejalani LDR sama Bapak, dengan ngejaga buah hatinya sedemikian rupa. 

Tapi boleh nggak sih aku mikir, kalau kadang yang dibutuhkan anak itu bukan kebebasan, tapi kepercayaan? 

Mungkin nanti kalau aku jadi Ibu, aku nggak bakal jadi kayak Mamaku. Bukannya karena beliau nggak bisa dijadikan panutan. Bukan. Aku cuma nggak mau anakku nanti bakal kayak aku. Aku yang tertutup dari orangtuanya sendiri.

Aku pengen jadi Ibu kayak Mommy Diane. Terlepas dari perilaku buruknya sebagai Ibu, Diane sayang sama Steve dengan rasa percaya, kalau Steve bakal baik-baik aja. Bukannya sayang dengan rasa takut, takut bakal kenapa-napa. 

Tapi mungkin karena aku nggak punya anak, makanya aku masih nggak ngerti sama rasa takut Mama itu. 

Entah aku bakal jadi Ibu yang kayak gimana nanti. Tapi yang jelas, aku nggak bakal jadi 'Mami', yang kerjaannya suka ngejualin gadis-gadis ABG ke om-om. Jual diri sendiri aja kayaknya nggak bakal laku, apalagi jualin orang lain. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

TRANSLATE

YANG PUNYA KEHIDUPAN TERKETIK

Foto Saya

Makhluk Tuhan yang diduga kuat pengidap alzheimer kelak di hari tua, Makanya suka nulis, menceritakan apa yang perlu maupun yang gak perlu, sebuah kebiasaan yang diimpikan akan jadi sebuah kesuksesan. Moody-an, tapi disitu ngerasa masalah yang bikin mood jelek itu jadi sumber ide untuk nulis. Terobsesi untuk gendut, agar gak cuman kentut sama rindu aja yang ngumpul di badan. Si masokis yang terima saja dihujat pacar sendiri, dan tak lupa menghujat balik, lewat blog ini.
Copyright © TERKETIK | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com