Sabtu, 25 Juni 2016

Ini Bukan Threesome

Nggak semua buka bersama, atau yang biasa disebut bukber, berjalan sesuai yang diinginkan. Ada bukber yang pada nggak bisa datang semua orangnya. Ada bukber yang ngecewain karena makanan di tempat bukbernya nggak enak tapi harganya mahal. Dan ada bukber yang canggung. Bukan seru-seruan, malah diem-dieman. 

Misalnya pas bukber sama teman sekelas, eh ada teman sekelas yang udah nikah dan ternyata nikah sama mantan kita. Jadinya awkward geleng-geleng kepala. Udah kayak pas ngeliat fotonya Awkarin di IG. Di fotonya itu, dikasih tulisan “Life is harder than my nipples.”

HIDUP ITU LEBIH KERAS DARIPADA PUTINGKU. Holyshit. Baru lulus SMA (atau SMP ya? atau TK?), si Awkarin sok-sok ngomongin kerasnya kehidupan. Yang cewek-cewek, ngerasa awkward geleng-geleng kepala kan bacanya? 

Lanjut. Nah, jadi aku nggak terlalu bersemangat sama rencana bukber bareng teman sekelas waktu SMK tahun ini. Dua tahun lalu, bukbernya anyep. Pada ngebentuk kelompok dan obrolan masing-masing gitu. Salah satu dari kelompok itu pake bayar sendiri segala, trus melenggang pulang dengan muka masam. Entah kenapa. Trus setahun yang lalu, aku nggak ikut bukber karena sakit. Sedih. Ditambah lagi, Darma cerita kalau dia gagal bukber. Ngenes. Aku makin pesimis aja. 

Sebagai manusia berkepribadian melankolis sempurna, hal yang aku lakukan pada suatu rencana biasanya adalah mikirin hal terburuk yang bakal terjadi sama rencana itu. Ya, pesimis duluan gitu. Jadi pas diajak bukber, aku ngikut aja. Sambil mikir, ah palingan bakalan hancur kayak diserang puting. Puting beliung maksudnya. Angin.

Tapi ternyata, bukber tanggal 21 Juni kemaren itu nggak hancur kok. Apalagi pas bareng Dita dan Ikhsan. Umm. Memuaskan!


Btw, sesuai judulnya, ya. Ini bukan threesome. Memuaskannya aku bareng Dita dan Ikhsan bukannya karena kami lagi jima’ bareng. Walaupun jima’ alias bersetubuh nggak batalin puasa kalau dilakuin malam hari, nggak kayak pas di siang hari (yaiyalah, orang udah buka), tapi kami nggak lagi jima’. 

Selain karena itu dosa, bukan muhrim, tapi juga karena kami jamak, alias bareng teman-teman (maksa nggak sih ini? huhuhu) lain. Nggak cuma bertiga, tapi masih ada tujuh orang lagi yang ikut bukber. Yaitu Dea, Dina, Chintya, Wahyu, Selvi, Nuri, dan Eka. 



Cuma sepuluh orang aja sih, nggak semua penghuni kelas XII Administrasi Perkantoran 2 hadir. Tapi seru. Nostalgia tentang kenangan dulu dan tentang kabar masing-masing diomongin rame-rame. Kami juga ngomongin perubahan masing-masing dari kami. Yang paling berubah itu menurutku Selvi. Dulu dia nggak berhijab, sekarang berhijab dan berbusana baju terusan. Anggun dan makin cantik. Dia udah kayak Atikah Suhaime di film My Stupid Boss versi tembem. Trus dia sering kepergok ikut pengajian di dekat rumahku. Ya ampun, Selvi calon istri idaman banget. 

Trus kami foto-foto, sesuatu yang lumrah terjadi di bukber. Tapi mukaku yang kepampang di foto di bawah ini kayaknya nggak lumrah sih. 

Yang pake jilbab merah itu Selvi.
Yang matanya ambigu mau pejam apa enggak itu aku. Huhu.
Kelar bukber, kami meluncur ke Samarinda Central Plaza (SCP). Kapan lagi bisa keluyuran sama banyak orang. Selama ini aku keluyurunnya kalau nggak sama Dita, sama Dina. Atau paling seringnya sih sendiri. Kami bersembilan, Selvi nggak ikut karena mau sholat tarawih (kami pada berdecak kagum pas dia bilang gitu, sekaligus malu karena kami nggak tarawih huhuhu) nge-eskrim di McD. 

Kembaran Emma Stone, Dita calon istri G-Dragon, Dea pipinya kayak balon

Udah muka paling gede, paling depan lagi. 

Para perawan lucah tanpa Shela. Paling kiri itu Nuri.
Btw Dina lagi senyumin uang receh di lantai kayaknya

Sayangnya, Ikhsan keburu pulang karena katanya ada janji. Entah sama siapa. Apa janji sama teman-teman kampusnya yang gaulnya minta ampun itu, atau sama pacarnya, Kiki. Yang jelas, aku dan Dita udah senang bisa ketemu sama Ikhsan lagi. Ketemu sama sahabat yang biasa kami sebut mucikari. 

Ikhsan adalah teman sekelasku selama sekolah di SMK Negeri 1. Tapi kenal baiknya baru pas kelas dua. Akrabnya pas kelas tiga, dan bener-bener ngerasa dia itu mucikari, pas udah lulus. Dia adalah sahabat cowok yang kalau soal jalan atau ngumpul, rempongnya mirip kayak cewek. Aku, Dita, Ani, dan Owi adalah 'anak-anak'nya. 

Ikhsan mau aja jalan bareng sama cewek-cewek. Ikhsan mau aja dengerin cerita kami. Ikhsan mau aja disuruh fotoin kami berkali-kali. Ikhsan mau aja jadi ojekku kalau aku nggak dibolehin bawa motor buat jalan malam. Ikhsan sering nenangin Dita yang suka ngedumel nggak jelas. Ikhsan paling semangat kalau udah ngebully Ani yang buntal dan hiperaktif. Ikhsan dan Owi sama-sama hobi ngegambar. 

Keberadaan Ikhsan udah kayak Mamet di geng Cinta AADC. Bedanya, Ikhsan nggak bully-able sih. Tapi gadun-able. Ngemong kami berempat gitu.

Tapi ketemu kami jadi jarang. Awalnya dari Ani yang mutusin buat kuliah di Malang. Trus Owi yang jadi susah diajak jalan. Sisa bertiga, yaitu aku, Dita, dan Ikhsan. Kami bertiga pun sering jogging bareng. Kami ngerasa makin akrab aja gitu, karena Ikhsan juga berkepribadian melankolis sempurna, sama kayak aku dan Dita. 

Sampe akhirnya, Ikhsan nggak ada kabarnya. Semenjak dia punya pacar, dia udah nggak pernah ngajak jalan lagi. Diajak jalan pun juga ogah-ogahan. Kami berdua jadi kangen dan kecewa, seperti yang aku pernah tulis di SINI

Dan syukurlah, kangen kami ketuntaskan. Sebenarnya aku juga udah ketemu Ikhsan pas di acara di rumahnya Dea, ketemunya juga bentaran karena aku datangnya telat. Nggak ada Dita juga. Jadi feel-nya kayak kurang gitu. 

Pas bukber kemaren, aku, Dita, dan Ikhsan gila-gilaan. Foto-foto, ngerecokin makanan Ikhsan yang lebih enak daripada makananku, saling ngatain. Aku dan Dita ngatain dia yang sombong-susah-diajak-jalan-mentang-mentang-udah-punya-pacar. Dia nge-bully aku yang jomblo dan jobless, dengan sok-sok ngasih motivasi. Dia juga nge-bully Dita dengan pertanyaan andalannya, 

“Masih nggak punya pacar kah, Dit? HAHAHAHAHAHA.”

Walaupun gitu, tetap nyenengin sih. Bukber yang nyenengin. Lebih nyenengin daripada threesome. Kayaknya. Belum pernah threesome sih. Yang jelas, ini bukber asoy. Sialan. Sialan. Sialan.

Eh tapi, sialan di atas itu maksudnya diucapin sebagai bentuk kebahagiaan gitu. Yang sialan beneran, postingan ini sih. Aku nggak bisa nulis post tentang kejadian sehari-hari. Jadinya sialan-apaan-sih-begini. Hiks. 

Jadi, kapan kita bukber? Buka berdua?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Senin, 20 Juni 2016

Lebih Dari 500 Hari Untuk (500) Days of Summer

Menurut cewek yang suka musik daripada suka masak (baca: nggak bisa masak) kayak aku, film bagus tanpa original soundtrack (ost) bagus itu kurang pas. Kayak ada yang kurang aja. Udah kayak pake celana tapi nggak pake baju, makan roti tanpa keju, atau merancap tanpa ngeluarin peju. 

Sutradara film Suicide Squad, David Ayer, juga ngakuin pentingnya soundtrack buat film. Di akun Twitternya, beliau nulis “A movie without music isn’t a movie,” sambil promo film dan original soundtrack-nya. Aku histeris begitu tau kalau lagunya Eminem jadi salah satu soundtrack. Filmnya pasti bakalan brutal, kelam, dan garang. Alzhema and I love it. 

Tapi bukan berarti film yang punya soundtrack bagus itu kalau pake lagunya Eminem. Film yang punya soundtrack yang bagus itu banyak sih. Cuman, menurutku bisa satu sampe dua lagu aja yang bagus, lagu lainnya biasa aja atau jelek. 

Ya, di dunia ini nggak ada yang sempurna sih. Termasuk soundtrack film. Tapi pemikiran itu dipatahkan sama soundtrack film (500) Days of Summer. Film bagus sepanjang masa.

Adegan ini aja bagus dijadiin meme begini. Huahaha.

Semua lagu yang jadi soundtrack film itu, menurutku nggak ada yang jelek. Padahal pada beda-beda genre musiknya. Tapi keren. Tiap lagunya mewakili banget scene yag ada di filmnya. Serasa ngeliat video musik kalau soundtrack-nya ngalun. Dan ternyata karena sutradaranya itu, Marc Webb, adalah sutradara video musik. Sialan. Pantesan aja keren. 

Covernya aja keren gini. Muka Summer semua.
Sumber: Google Image

Dan dari sekian lagu-lagu keren yang jadi ost, ada beberapa yang jadi favorit. Lagu-lagu yang menurutku bisa disukai selama 500 hari, bahkan lebih. 


1. Us – Regina Spektor 
Lagu Us adalah lagu yang pertama kali ngalun di film, tepatnya di opening credit. Mengiringi ‘masa-masa pertumbuhan’ Summer Finn (Zoey Deschanel) dan Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt). Dan lagu ini, mengiringi pertumbuhan rasa kagumku sama (500) Days of Summer, juga jadi gerbang menuju lagu-lagu Regina Spektor lain. 

Us caper dengan gesekan biola yang terdengar megah dan alunan piano yang powerful. Belum lagi sama suara Regina Spektor yang beraksen unik dan cenderung kayak dimainin gitu suaranya. 


Pertama kali denger, bikin heran sih. Tapi nggak bisa aku pungkirin, ini lagu yang dari hati banget. Lagu yang bikin aku terdampar ke ‘dunia lain’. Dunia yang isinya orang-orang kasmaran yang lagi asik pacaran di taman dengan angin sepoi-sepoi. 

Menurut blog INI, Us bercerita tentang dua orang kasmaran yang lagi dimabuk cinta, yang ngerasa kalau mereka adalah orang terpenting di muka bumi ini, dan nggak peduli apa kata orang yang udah berpengalaman soal cinta. 

Iya nggak sih, kalau kita lagi pacaran sama orang, kita ngerasa jadi orang yang paling bahagia di dunia. Atau orang-orang sering bilang, “Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak.” Trus bawaannya pengen pamer aja ke khalayak ramai. Upload foto sama pacar lah, ngetwit soal cinta-cintaan lah, check in lagi makan bareng di Path lah. Giliran check in di hotel aja diem-diem. 

Dulu, aku ngerasa lagu Us ini kayak national anthem hubunganku sama Zai. Dan semboyan kami adalah “I love us.”

HAHAHA. Alay. 

Pas awal-awal putus, aku benci lagu ini. Bawaannya keingatan Zai mulu. Karena dia yang ngerekomendasiin lagu ini buat didengerin. Karena dia ngefans Regina Spektor sebelum aku. Aku kesel. Udah kayak Darma yang kesel waktu aku kirimin foto Valak di Whatsapp. Dia sih keselnya bukan karena enek Valak mulu yang diomongin, tapi karena takut. Huahaha.

Tapi sekarang, aku udah biasa aja. Kembali eargasme sama Us. Karena keindahan Us ibaratnya kayak keperawanan. Nggak boleh direnggut sama orang yang salah.


2. Sweet Disposition – The Temper Trap
Entah cuma perasaanku aja atau apa, (500) Days of Summer ini kebanyakan yang suka itu cowok-cowok daripada cewek-cewek. Dan cowok-cowok yang suka itu, kebanyakan pada favoritin lagu Sweet Disposition. Kalau nggak favoritin, minimal taunya soundtrack (500) Days of Summer itu, ya cuma lagu ini. 


Iya sih, lagunya menurutku cowok banget. Dengan genre indie rock dan post-punk revival, lagu ini bikin yang denger jadi jejingkrakan semangat. Selain itu, Sweet Disposition memang lebih sering muncul, yaitu dua kali, di dua scene yang intinya sama. Tentang kebersamaan Tom dan Summer. Makanya mungkin karena itu, lagu ini lebih terkenal daripada lagu yang lain. Mana lirik di chorus-nya juga catchy dan memorable,

“A moment a love, a dream, a laugh, a kiss, a cry.
Our rights, ours wrongs.”

Sweet Disposition bikin yang denger jadi ngerasain aura positif. Apalagi kalau didengerinnya sambil pejemin mata. Gebukan drumnya mantap. Suka! Kalau dengerin lagu ini, aku seolah jadi Tom Hansen. Jadi kayak cowok yang ngerasain positifnya barengan sama cewek yang disukai. Perasaan positif yang berharap bisa dipake buat ngehasilin garis positif di testpack sama cewek itu dengan halal. 


3. Quelqu’un m’a dit – Carla Bruni
Kemunculan lagu ini di film sebentar aja. Lagunya juga aku nggak ngerti tentang apa, pake bahasa Perancis gitu. Pake bahasa Inggris aja nggak ngerti, apalagi pake bahasa Perancis.



Tapi.... munculnya di scene yang menurutku nyebelin. Jadinya membekas. Yaitu pas Tom dan Summer lagi mau nonton ke bioskop. Dengan resah gelisah bercampur kesal, Tom nanya mereka itu sebenarnya apa. Pacaran atau gimana. Dan dengan entengnya, Summer bilang, 

“I don’t know. Who’s care? I’m happy. Are you happy?”

Trus si Tom dengan polosnya jawab “Yaa!” Disahutin lagi sama Summer, “Good!”

Dan mengalunlah lagu yang indah dan menenangkan, yaitu Quelqu’ un m’a’ dit. Lagu yang jomplang sama scene itu. Scene yang..... 

WHO’S CARE GIGIMU! Happy apanya, Tom jadi menderita gitu akhirnya! Bitch is exist like a devil, so Summer is bitch and devil! FAK! VALAK! 

Enak banget si Summer ngomong gitu. Bikin aku jadi mikir, jadi cewek cantik itu enak, ya. Bisa mempermainkan orang seenaknya. Apalah aku yang mukanya nggak enak dipandang. Apalagi enak diajak ngobrol. Tapi kalau diajakin oral, enak sih kayaknya. Oralraga, eh olahraga maksudnya. Olahraga bareng. Olahraga sepeda. Ku suka digenjot naik sepeda.


4. Hero – Regina Spektor
Lagu paling sedih yang dijadiin soundtrack buat ngiringin adegan paling sedih di (500) Days of Summer. Lagu yang mengalun saat ekspetasi Tom nggak sepakat sama realita. Saat ngeliat ada cincin tunangan melingkar di jari manis seorang cewek yang katanya nggak akan pernah percaya cinta. Jari manisnya Summer. Saat akhirnya Tom punya alasan kuat buat nggak ngarepin Summer lagi. 



Menurutku Hero ini Tom banget. Dengan suara Regina Spektor yang unik dan terdengar melankolis, nuansa sedih scene itu nyampe ke penonton. Aku paling suka liriknya yang, 

“I’m the hero of the story. 
Don’t need to be saved.”

Seolah nunjukin kalau Tom pasti bisa hidup. Tanpa Summer. 

Tapi aku nggak bisa hidup tanpa lagu Hero. Kalau Dina punya lagu andalan yang dia dengerin pas lagi down, yaitu I Started A Joke-nya Bee Gees, aku juga punya. Yaitu Hero ini. Walaupun nggak paham-paham banget sama makna lagunya, tapi aku ngerasa Hero adalah pahlawan yang nyelamatin aku dari rasa sedih berkepanjangan. Ngasih kekuatan di balik alunan pianonya yang menyayat.

Aku suka dengerin lagu mellow kalau lagi sedih. Termasuk lagu ini. Apalagi pas lirik “It’s al-right it’s al-right it’s al-right,” yang dinyanyiin Regina Spektor dari suaranya kedengeran jelas sampe sayup-sayup. Sialan, airmataku jadi gampang ngalir tiap dengerinnya. Ibarat ejakulasi, dengerin lagu Hero udah kayak ejakulasi dini. Baru bentar doang udah keluar. Udah lemas.

Entah karena memang rata-rata orang yang lagi sedih bakalan gitu, atau karena aku sok sokan nerapin quote film The Fault In Our Stars yang, “Rasa sakit menuntut untuk dirasakan,” makanya jadi alay gitu kali, ya. Entah. Kenapa.


5. Vagabond – Wolfmother
Lagu paling urakan di antara lagu-lagu lain yang jadi soundtrack. Bikin aku bawaannya pengen mukul-mukul meja tiap dengerin lagunya. 

Vagabond ngiringin perjalanan move on-nya Tom. Keluar dari tempat kerja lama, cari kerjaan baru, dan berusaha ngelupain Summer. Bukan cuma Tom aja yang memulai hidup barunya, tapi juga Summer. Cewek yang punya tanda hati di lehernya itu nikah. Menempuh hidup yang benar-benar baru.


Birahi pengen cepat-cepat move on dan rasa kesal yang masih nyangkut karena mantan, bisa didapatin pas dengerin lagu ini. Asliiiii, kalau didengerin pas lagi ngebakar foto mantan, nyumpahin mantan macam-macam, trus pake nyantet si mantan, kayaknya pas banget.

Lagi-lagi aku nggak paham-paham banget sama lagu yang jadi soundtrack (500) Days of Summer, termasuk lagu ini. Tapi kalau dikaitkan sama adegan Tom dan pas sang vokalis, Andrew Stockdale, ngomong sebelum nyanyiin lagunya, 

“This is song about innocence lost.”

Bikin aku mikir, kalau lagu itu ngegambarin Tom udah nggak sepolos dulu. Polos karena kerja di tempat yang sebenarnya bukan passion-nya. Polos karena mau-mau aja dipehapein sama Summer. Vagabond ngegambarin, kalau Tom yang dulu, bukanlah Tom yang sekarang.


Udah, lagunya cukup lima aja. Ngikutin rukun islam. Yang jelas lagu-lagu di atas bikin aku jadi aneh. Aneh karena kalau ngeliat film dan soundtrack yang sama-sama bagus, itu kayak ngeliat pengantin di pelaminan. Kayak ngeliat sepasang manusia yang berjodoh. Bukan berjodoh cuma selama 500 hari. Tapi selamanya. 

Gimana, kamu suka (500) Days of Summer dan soundtrack-nya juga nggak? Siapa tau kita jodoh.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 15 Juni 2016

Can't Help Falling In Baper With The Conjuring 2

I can’t help kasih judul sepanjang itu. Soalnya film The Conjuring 2: The Enfield Poltergeist udah ngasih aku kepuasan yang beda sama kepuasan cinta satu malam. Ngebuat aku lebih dari melayang. Akan kukenang lebih dari selama-lamanya. Entah lebih dari apa itu namanya nggak tau deh.

Sumber: Movfreak

Padahal awalnya aku nggak bergairah buat nonton The Conjuring 2. 

Satu, karena film ini pake formula yang sama kayak film pertamanya, yaitu tentang rumah berhantu. Rada ngebosenin. Dua, karena ngebaca review dari Rorypnm. Di situ ditulis kalau The Conjuring nggak punya adegan jump scare yang memorable, trus banyak scene yang melelahkan buat ditonton. Review positif dari Movfreak, aku baca cuma sekilas karena otakku keburu dicuci sama Rorypnm. Tiga, karena aku takut nonton film horror sendirian. Pas mau nonton sama keponakanku, Yoanda, nggak dibolehin sama Mamaku. Dengan alasan.... 

“Puasa-puasa nggak boleh nonton film kafir!”

Hiks. 

Tapi akhirnya aku nonton juga. Gara-gara Dina si pecinta film horror. Tiba-tiba dia ngajakin nonton, dan momennya pas aku lagi datang bulan. Aku jadi nggak ngerasa bersalah nonton film kafir. Huahahaha. Terima kasih, datang bulan!

Dan terima kasih buat Dina, karena akhirnya mau sehati sama aku soal film. Soal The Conjuring 2. Beda pas soal film-film lain. Kayak Deadpool, My Stupid Boss, apalagi Dogtooth. Huhuhu.

Banyak pendapat kami yang sama. Bikin kami mutusin buat nggak langsung pulang pas selesai nonton. Trus betah duduk ngebahas film ini di bangku depan SOGO sampe sore.

Kami sama-sama suka The Conjuring 2. Film ini punya kelebihan yang mengagumkan, tapi juga punya kekurangan cuman masih bisa dimaklumi. Selain nyajiin horror, juga nyajiin drama keluarga yang menyentuh. Apalagi film ini berdasarkan kisah nyata. 

Akting para pemainnya turut ambil bagian dalam bikin kagum. Vera Farmiga yang berperan sebagai Lorraine Warren, dan Patrick Wilson berperan sebagai Ed Warren, lagi-lagi sukses membawakan peran mereka dengan keren. Madison Wolfe sebagai Janet Hodgson, juga nggak kalah kerennya. Mimik muka ketakutannya dan pas lagi kesurupan itu bikin aku bernafsu pengen bisa akting kayak gitu. Dan rambutnya, aaaak pengen! Aku baru tau ternyata dia pake wig, jadi itu bukan rambut aslinya. 

Sumber: Google Image

Dan aku terpuaskan dengan adegan-adegannya. Ngagetin. Dina bilang kalau aku ada teriak sampe tujuh kali. 

“Dan yang paling bangkenya, pas kamu teriak sambil narik tanganku. Chaaaa, itu aku udah kayak Ed yang ditarik sama Lorraine! Huh!” 

Aku cuma bisa cengengesan pas dia bilang gitu. Ya, itu pas lagi nonton adegan yang bikin jantung serasa dipermainkan. Bener kata Rorypnm. Melelahkan. Tapi melelahkan yang bikin puas.

Trus ada adegan Janet Hodgson yang bikin aku capek deg-deg-an ngeliatnya. Ranjang Janet bergoyang hebat. Untung aja itu bergoyangnya karena serangan hantu, bukannya karena Janet lagi gituan sama cowok pake gaya misionaris. Ntar jadinya bergoyang panas, trus yang ngeliatnya jadi deg-degan mupeng.

Ada juga adegan-sepele-yang-dari-hal-sepele, yang bikin aku teriak ketakutan. Adegan itu cuma bermodalkan mainan. Tapi serem kampret. Langsung kebayang gimana kalau sampe terjadi di kehidupan sehari-hari. 

Sebenarnya banyak yang bikin kebayang kalau sampe terjadi di kehidupan sehari-hari. Rumah keluarga Hodgson, rumahnya yang dihantui, sederhana dan biasa aja. Beda sama rumah di The Conjuring 1 yang megah dan besar. Rumah di The Conjuring 2, bikin aku ngerasa kalau rumah itu kayak rumah sendiri. Kamar, tangga, sofa, dan sudut-sudut gelap rumah bikin ngerasa ngeri. Aku ngerasa relate sama rumah itu. 

Karena ngerasa relate itu, jadi aku ngerasa seram. Dan karena peranan scoring dari Joseph Bishara juga sih. Bener-bener bangke itu komposer! Bisa aja nakut-nakutin pake musik. Sialan. Aku nggak bisa ngebayangin kalau scoring dari Joseph Bishara dipake pas prosesi ijab kabul. Kayaknya bakal tambah menegangkan, dan jadi menyeramkan buat kedua calon mempelai. Huhuhu. Eh tapi ngapain juga ijab kabul pake ada scoring segala.

Ya, menurutku cuma dua hal itu yang bikin aku ngerasa serem. Kalau soal hantunya, nggak menyeramkan. Malah bikin ketawa. Nggak usah tanya Dina. Aku yang penakut ini aja malah ngetawain hantunya, apalagi Dina yang suka horny sama film horror. Entahlah karena memang sengaja nggak dibikin serem daripada yang The Conjuring 1, atau karena imanku tebal (muntah aja nggak papa gaes) di bulan puasa ini, yang bikin aku nggak takut sama kehadiran setan, hantu, iblis, whatever apa lah itu.

Seperti yang Dina bilang, 

“Kemunculan hantunya nggak jadi suprise. Nggak kayak The Conjuring 1 yang sedikit-sedikit muncul eh pas muncul di puncak, total kelihatan dan bikin takut.” 

Dina pun nambahin dengan bilang kalau nggak ada adegan nakutin yang memorable kayak di The Conjuring 1. Adegan ‘tepuk tangan’ itu. Lagi-lagi aku setuju. Trus jadi keingat sama review dari Movfreak. Adegan ‘bayangan plus lukisan’ mungkin jadi pengganti adegan ‘tepuk tangan’, menurut blog movie review itu. Tapi tetap aja masih kalah seram. Mungkin karena hantunya cupu.

Nama hantunya juga apaan. Beda sama The Conjuring 1 yang punya hantu namanya Bathsheba. Misterius dan elegan gitu kan. Lah ini.... 

Seandainya namanya diganti. Misalnya diganti jadi Emily Ratajkowski gitu kek. Serem kan, ngebayangin cowok-cowok yang ngeliat Emily Ratajkowski. Cowok-cowok pasti nggak peduli lagi sama cewek di samping mereka. Badannya Emily itu lho, seksi bohay. Huhuhuhu. Emily Ratajkowski adalah mimpi buruk semua wanita. Aaaaaak!

Dan kalau kata Dina, mimpi apa dia semalam. Lagu-lagu jadul di playlist-nya jadi ost The Conjuring 2. Yaitu lagu I Started A Joke-nya Bee Gees dan Can’t Help Falling In Love-nya Elvis Presley. Dua lagu yang bikin aku malu karena baru tau sekarang. Ah, Dina memang masternya lagu-lagu jadul. Aku udah nggak heran lagi sih. 

Yang bikin aku heran, The Conjuring 2 bisa-bisanya bikin aku baper parah. 

Untungnya, aku punya teman seperheranan dalam hal ini. Pas pulang, aku langsung bacain kembali review dari Movfreak. Dan aku jadi setuju sama semua yang ditulis di situ. Aku pikir karena aku orangnya baperan makanya bisa nganggap film horror itu ada nuansa romantisnya. Ternyata memang beneran ada. 

Karena lagu Can’t Help Falling In Love-nya Elvis Presley, yang Ed nyanyikan buat Lorraine di salah satu adegan. Karena tatapan mata Lorraine yang begitu dalam buat Ed trus Ed natap balik. Tatapan mata yang bikin siapa pun percaya, kalau Lorraine sayang banget sama Ed. Lagu dan tatapan mata itu, bikin aku seolah tenggelam dalam lautan keromantisan mereka. 

Hubungan Ed dan Lorraine sebagai sepasang suami istri yang saling cinta, menurutku mereka pamerkan dengan kurang ajar di The Conjuring 2. Dari pertengahan film sampai ending. Perasaan waktu di The Conjuring 1, mereka biasa aja. Nggak romantis. Nggak menyentuh. Nggak saling takut kehilangan. 

Lorraine dan Ed sebelum cipokan.Tapi bohong.
Sumber: Rorypnm

Sumpah, lagu Can’t Help Falling In Love dan adegan Ed-Lorraine bikin imej film ini langsung berubah. Dari serem jadi romantis. Sepanjangan nonton adegan yang bikin baper, aku senyam-senyum binal sendiri. Mikirin betapa indahnya tiba-tiba percaya kalau yang dirasain itu adalah cinta. Mikirin kalau padahal lagi nggak pengen jatuh cinta karena takut, tapi kenapa akhirnya malah jatuh cinta lagi. Mikirin kalau manusia nggak bisa menghindar dari yang namanya jatuh cinta. Nggak bisa ngelak. 

WHAT THE HELL! THE CONJURING 2 SIALAN! FILM HORROR KOK BIKIN BAPER! UDAH CUKUP PUNYA ADEGAN JUMP SCARE GILA, NGGAK USAH PAKE NUANSA ROMANTIS GILA JUGA! MAKSUDNYA APA COBA? JAMES WAN BANGKE!

Ngg..... Atau mungkin memang maksudnya James Wan nyutradarain dengan cerita gitu, buat nyampein kalau jatuh cinta itu ibaratnya kayak nonton The Conjuring 2. Awalnya kita ragu mau jatuh cinta itu apa enggak. Tapi mendadak jatuh cinta, lalu dihadapkan sama orang yang kita jatuh cintai. Orang yang bikin kita ngerasain jump scare. Bikin kita deg-degan, ketakutan, terlonjak kaget. Dan akhirnya jadi baper dan senyam-senyum. 

Mungkin kali ya. Mungkin aja deh.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 08 Juni 2016

The Progamama

Film-film andalan yang biasanya kutonton harus dicuekin dulu gara-gara chat dari Tata yang, 

“Di bulan puasa ini kayaknya list film rekomendasi lu kemaren bakal dipending nih, Cha. Mau nonton yang lucu-lucu aja. Jalan Sesama misalnya. Takut ada adegan yang membangkitkan sesuatu.”

Tauk deh sesuatu yang dimaksud Tata itu apa. Mungkin maksudnya kenangan akan mantan kali, ya. Kalau puasa trus nangis karena itu, kan bisa batal puasanya. 

Bahahaha! Ampuuuuuuuun, Ta.

Jadi daripada anuku ikut terbangkitkan, kenanganku maksudnya, aku milih buat nonton film yang macho. Bebas menye-menye. Yaitu film tentang olahraga. Lebih tepatnya, film biografi tentang olahragawan. Berjudul The Program. 

Sebenarnya aku nggak terlalu suka dua jenis film ini, biografi dan olahraga. Kecuali kalau film The Social Network bisa disebut film biografi selain disebut film drama/film drama sejarah. Dan hasrat nggak kesampaianku buat nonton Eddie The Eagle, film tentang atlet-ski-jumping-yang-ambisius-walaupun-punya-banyak-kekurangan, bisa masuk hitungan. Cuman berhubung The Program ini film yang diangkat dari kisah nyata kayak dua film di atas, yaudah aku jadi pengen nonton. 

Lagian, film ini tentang atlet olahraga balap sepeda. Aku suka sepeda. Dan suka sekali digenjot. Dibonceng naik sepeda maksudnya.

The Program bercerita tentang Lance Armstrong (Ben Foster), atlet olahraga balap sepeda asal Amerika yang udah menangin kompetisi balap sepeda terbesar di dunia, Tour de France, sebanyak tujuh kali berturut-turut. 



Ia meraih kemenangan gemilang itu setelah sembuh dari penyakit kanker. Banyak orang yang terinspirasi dan kagum sama Armstrong yang strong itu. Lagian memang iya sih, siapa yang nggak memuja dan mengidolakan seorang mantan pengidap kanker yang bisa mewujudkan impiannya jadi juara dunia?

Ngegenjot sepeda menyambut garis finish dengan girang.
Sumber: Google Image
Tapi sebenarnya, kisah hidup Armstrong nggak patut jadi inspirasi. Karena dalam meraih kemenangannya, Armstrong ngegunain obat-obat perangsang kinerja dan peningkat performa. Penggunaan obat-obatan tersebut biasanya kita kenal dengan sebutan doping. Hal itu dia dapatkan dari Dr. Michelle Ferrari (Guillaume Canet), seorang dokter atlet. Btw, Dr. Ferrari ini lumayan ganteng lho. Walaupun udah tua, tapi dengan aksen Italianya yang seksi itu...... uuuh~

Jadi, selain disuguhkan sama kemenangan-kemenangan yang diraih, kita juga disuguhkan sama prosesi ‘The Program’ alias praktek curang yang dilakuin Armstrong. Ada adegan yang sempat bikin aku ngilu pas nontonnya. Ternyata dunia olahraga sepeda itu keras. 

Cerita nggak cuma berpusat pada Armstrong, tapi juga pada David Walsh (Chris O'Dowd). Seorang jurnalis berita olahraga sebuah koran terkemuka yang curiga sama kemenangan mulus atlet itu.

Om, mingkem, Om...
Sumber: Google Image 

Kita diajak Walsh buat menyelidiki orang-orang terdekat Armstrong. Kita diajak buat ngerasain gimana rasanya jadi Walsh, yang pusing sendiri karena nggak ada yang percaya sama dia. Kita yang awalnya simpati sama semangat Armstrong dalam meraih mimpinya, lama-kelamaan jadi kesel sendiri. Lalu kita jadi naruh hati sama David Walsh. Kita jadi pengen ngebantu dia buat mengungkap kejahatan itu. 

Ya, kejahatan. Pengen jadi yang terbaik, tapi dengan cara yang salah. Sama aja kayak pengen jadi juara kelas, tapi dengan cara nyontek. Atau dengan cara kasih pole dance ke wali kelas pake tiang bendera sekolah. 

Overall, aku suka The Program. Selain dapat pesan moral, aku juga dapat banyak pengetahuan dari film ini. Salah satunya yaitu, aku jadi tau kalau Perancis itu selain punya festival film bergengsi di dunia, Festival de Cannes, ternyata juga punya kompetisi balap sepeda terbesar di dunia. Yeaah, pengetahuanku akan negara Perancis jadi bertambah. Selama ini taunya cuma Menara Eiffel, Festival de Cannes, sama french kiss, sih. Huhuhu.

Seandainya aku nggak ngeliat sinopsisnya dulu sebelum nonton, mungkin aku bakal mati kebosanan nontonnya. Dari judulnya aja sebenarnya nggak menarik. The Program. Nggak nimbulin rasa penasaran kalau dilihat cuma dari judulnya.

Nggak sepenasarannya aku sama sifat Mamaku. Mungkin lebih tepatnya heran. Now You See Me sama The Conjuring sekuelnya udah mau tayang, Tukang Bubur Naik Haji udah episode 1645, Mama masih aja galak.

Kemaren, waktu aku telponan sama seorang teman, Mama teriak-teriak nyuruh aku buat matiin telpon itu. Aku udah biasa sih ngedengar Mama teriak-teriak kesetanan gitu. Eh Astagfirullah, teriak-teriak kemanusiaan gitu maksudnya. Termasuk pas aku telponan di saat-saat yang menurut beliau nggak tepat. 

Tapi yang bikin aku nggak habis pikir, pas kemaren itu aku bener-bener dianggap anak kecil. Mama pikir aku bakal telponan sampe lupa buka puasa. Pemikiran yang berlebihan sih menurutku. Dan lagi, kalau memang mau ngelarang aku buat telponan, nggak perlu teriak-teriak. Kasihan lawan bicaraku di sana. 

Hal itu bikin aku ngedrama. Aku ngambek. Buka puasa dengan porsi sedikit, minumnya yang banyak. Minum bergelas-gelas dengan gerakan secepat buraq.

Aku kesel sama Mamaku. 

Mama memang terkenal sebagai orangtua yang galak. Seenggaknya di kalangan teman-teman SMK. Mungkin juga di kalangan orang-orang yang pernah baca post-ku soal Mama. Aku udah lumayan sering nulis soal ke-overprotective-an Mamaku itu. 

Orang-orang di kehidupan nyataku juga ikut ngerasain itu. Ikhsan nggak berani ngajak aku kemah dan jalan bareng teman-temannya kayak waktu ngajak aku dan Dita ikut Sun Colour, karena tau aku bakal nggak dibolehin jalan sampe larut malam, apalagi sampe bermalam. Hasilnya, aku cuma bisa gigit jari pas ngeliat mereka upload foto di Instagram. 

Dina, yang biasanya selalu siap siaga ke rumahku kalau aku bilang pengen curhat face-to-face, jadi nggak mau ke rumah kalau masalah yang aku curhatin itu soal Mama. Kayaknya, dia takut nggak bisa pulang. Takut kena masalah sama Mama juga kali.

Mantanku-yang-bikin-aku-susah-move-on-dua-tahun, bikin Dea dan aku berasumsi soal alasan itu mantan mutusin aku. Dugaan kami, alasannya karena ngerasa lelah sama teriakan yang dikumandangkan Mama, tiap kami bercengkerama di depan pagar rumah. Padahal kan cuma bercengkerama, bukan bersenggama. 

Aku takut kalau teman baruku ini ngerasain itu juga. 

Tapi ternyata kalau dilihat dari tanggapannya, kegalakan Mamaku adalah hal biasa. Dia ngerti. Dengan bilang, 

“Iya, kamu kayak anak kecil, baper, cengeng. Mama kamu memang gitu kan. Memangnya cuma kamu aja yang punya orangtua suka marah-marah?”

Ah, dia benar. Akunya aja yang lebay. Kayak gitu aja dibawa ngambek. Di hari pertama puasa lagi. Dan harusnya bukan pertanyaan “Kenapa Mama kayak gitu?” yang mengganggu pikiranku lagi. Tapi harusnya pertanyaan, “Kenapa aku masih nggak mau ngertiin Mama?” 

Aku udah sering nulis soal Mama dengan ending aku-menyesali-perbuatanku-sebagai-anak-yang-binal. Tapi masa sampe sekarang masih nggak ngerti-ngerti juga. Masih ngeluhin aja. 

Aku jadi mikir, kalau Mama dan Dr. Ferrari itu sama. Mereka sama-sama punya program. Dr. Ferrari punya The Program, kalau Mama punya ‘program’ yang kalau boleh dikasih nama, namanya adalah The Programama (iya, tau tau, namanya maksa huhuhu). Sebuah program yang dijalankan seorang Ibu buat buat ngedidik dan ngejagain anaknya. Bukan cuma Mama, tapi setiap Ibu di dunia ini punya programnya masing-masing. Sikap galak dan overprotective Mama adalah program yang Mama pilih. Eh, program ini bukan dipilih, tapi memang ditakdirkan. Udah takdirnya Mama ‘sebegitu’ sayangnya sama aku.

Di film The Program, Lance Armstrong ngejalanin suatu program buat mencurangi kompetisi. Buat menang. Di kehidupanku sebagai anak, aku harus bisa ngejalanin program dari Mama supaya menang. Menang sebagai anak yang berbakti juga sholehah. Dan aku, nggak boleh mencurangi program itu dengan ngeluhin beliau. Menginginkan program itu segera berakhir juga nggak boleh. Program itu nggak ada masa berlakunya. Karena cinta Ibu itu sepanjang masa.

Bisa jadi, kalau tanpa The Progamama, hidup para anak nggak bakal keurus. Bakal berjalan tanpa arah. Contohnya aku. Kalau Mamaku nggak punya program, mungkin hidupku bakal kayak film-film yang ada di Festival de Cannes. Melanggar norma yang ada, tone-nya indah bercampur kelam, dan penuh dengan penis-vagina yang bertebaran dengan eksplisit. Serem. Diurus aja udah 18+ gini.

Jadi, kalau ada yang punya orangtua yang overprotective kayak Mamaku, orangtuanya jangan dilawan. Dilemesin aja. Karena orangtua orangtua lebih dari anak BOOM!

Gitu kali ya.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kamis, 02 Juni 2016

We Don't Fak Anymore

Akhir-akhir ini, setiap nemuin lagu yang pura-pura bahagia, aku bawaannya pengen teriakin kalimat andalannya Abdur Arsyad, 

“Aduh, Mama sayange. Stop tipu-tipu!”

Aku teriakin karena aku kesal, sekaligus suka sama lagu-lagu pura-pura bahagia itu. Ya, pura-pura bahagia. Irama lagunya bikin riang dan menggelinjang. Pas dinyanyiin liriknya dan dicari tau maknanya, mata kita langsung ngehasilin banjir bandang.

Kayak lagu Bimbang-nya Melly Goeslaw, yang diaransemen Goodbye Felicia. Seolah kita diajak buat jejingkrakan, padahal liriknya sedih-banget-bangke gitu. Atau lagunya Send My Love (To Your New Lover) dari Adele. Dengan alunan just-the-guitar-okay-cool, Adele berhasil bikin kita bergoyang. Trus nyimpulin kalau lagu ini tentang jatuh cinta. Eh pas dilihat liriknya, tentang putus cinta. Adele mengikhlaskan sang mantan punya pacar baru. Goyangan sok asikku berhenti pas nyanyiin liriknya, 

“We both know we ain’t kids no more.” 

Dewasa banget pemikirannya Adele. Sama sih. Pemikiranku juga dewasa. Suka mikirin adegan dewasa maksudnya. 

Bukan cuma Adele, Carly Rae Jepsen juga ngajakin buat pura-pura bahagia dengan lagu Your Type-nya. Menurutku, lagu ini jauh lebih ngeselin daripada lagunya Adele itu. Bisa-bisanya dia nyanyiin lagu tentang cinta nggak terbalas dengan genre musik synthpop ala 80’an yang selalu bikin goyang. Tiap denger lagu ini, aku bingung antara mau goyangin pundak atau tepok-tepokin muka biar nggak mewek. Terutama pas di lirik sederhana ini, 

“But I still love you. I’m sorry, I’m sorry, I love you.”

Sialaaaan. Nggak berdaya gitu. Nyatain perasaan pake diiringi minta maaf segala. Kutandai Carly sebagai penyanyi yang bener-bener nggak ‘beradab’ dalam nyiptain lagu.

Dan sekarang, Carly ada temennya. Yaitu Charlie. Charlie Puth. 

Beberapa hari yang lalu, Darma ada chat aku via Whatsapp. 

“Pernah denger lagu We Don’t Talk Anymore? Charlie Puth sama Selena. Lagi eargasme sama lagu itu gue.”

Sebelum aku jawab kalau aku nggak tau, Darma udah ngirimin lagu itu. Jari tengahku langsung memencet play. Suara Charlie menyapaku dengan lembut. Disusul dengan suara sensual Selena. Mereka menyatu memanjakan telingaku. Bikin aku jadi pengen goyang biji selasih ala Cita-Citata dan Trio Ubur-Ubur. Maju mundurin pundak sambil ngacungin hape. Kayak Cita-Citata yang ngacungin sebungkus minuman serbuk pereda panas dalam. 

Damn! Enak banget lagunya sialan! 



Tapi sebelum aku ngerasa lebih keenakan lagi dan milih buat goyangin biji beneran, aku ngeliat liriknya. 

Ternyata. Lagunya. Tentang. Hubungan. Setelah. Putus. Cinta. Yang. Nggak. Bisa. Temenan. Lagi. Kayak. Dulu.

Darma bangkeeeee!!!

Eh. Charlie sih yang bangke. Jahat sekali si Charlie. Udah bikin aku sakit hati dengan fakta kalau dia into men, lebih suka batangan daripada lubang. Alias homo. Sekarang bikin aku sakit hati lagi karena lagunya.

Aku pikir lagunya tentang orang yang lagi marahan. Kayak dont talk to me! Talk to my hand! Dont talk, just fuck! Gitu kek. Ternyata lagunya sedih. Asli, liriknya bener-bener bikin nyesek. Walaupun genre musiknya tropical house gitu. EDM versi damai dan menenangkan. Tapi harusnya dari awalnya aku udah sadar kalau lagunya sebangke itu. Dilihat dari liriknya yang, 

“We don’t talk anymore. We don’t talk anymore. We don’t talk anymore. Like we used to do.
We don’t love anymore. We don’t love anymore. What was all of it for?”

Malam itu, aku dengerin We Don’t Talk Anymore sampai tertidur. Posisi tidurku yang lagi menyamping ke kanan memungkinkan bantalku jadi basah. Aku nangis. Cewek gampangan banget ya. Gampang nangis maksudnya. 

Anehnya, walaupun lagunya tentang putus cinta, aku nggak kepikiran Zai sama sekali pas dengerinnya. Nggak ada sedikit pun sekelebat mukanya terlintas dalam pikiranku. Mungkin karena aku ngerasa momen we-dont-talk-anymore antara aku sama dia udah terjadi jauh sebelum kami putus. Dan aku mulai bisa menerima itu terjadi. Mungkin karena itu.

Aku malah kebayang yang lain. Kebayang seseorang yang udah mengklaim tempat spesial di kotak tertawaku belakangan ini. Aku takut, kami nggak bisa ketawa bareng lagi. Tauk deh itu siapa. 

Trus bayangan seseorang itu jadi nggak sendirian. Ada bayangan muka Yoga, Darma, dan Wulan menyertainya. Ada WIDY

Setelah kangen my stupid job, aku jadi kangen sama kerusuhan grup Line WIDY. Hah. Dasar tukang kangen!

Kira-kira setengah bulan ini, grup Line kecil-kecilan WIDY sepi perusuh. Kerusuhan terakhir, waktu Darma bilang kalau meme Teletubbies ngingatin sama kami berempat. Trus aku dengan girangnya pengen jadi Lala, Wulan jadi Po karena dia yang paling imut. Dan ditutup dengan Yoga yang bilang kalau Lala itu transgender. Gara-gara Darma bilang kalau antena kepala Lala lurus, bukan berlubang yang bisa dimasuk-masukin. Entah maksudnya apa.

Kerusuhan sebelumnya yang bener-bener rusuh, waktu kami nyobain telpon grup Line. Apa deh itu namanya. Malam itu, kami kayak ibu-ibu arisan. Berisik. Ngomongnya berebutan.

Alay sih pake di-ss segala. Hahaha.


Sekarang, nggak ada chat-chat dari Yoga yang biasanya berisi curhatan dan gambar-gambar mesum. Nggak ada ngirimin foto kayak gini pas kalah main sambung kata. 


Nggak ada chat-chat dari Wulan yang nge-bully Darma dan berbagi emot ciumnya buat aku. Nggak ada chat-chat dari Darma yang menyangkal semua bully-an yang mengarah padanya. Dan kirim foto yang membuktikan dia jodoh sama Wulan. Kayak gini,



Padahal, aku pengen banget kayak dulu lagi. Saat aku dan Wulan ngerasain sensasi jadi ABG, Anak Binaan Gadun. Karena ngomongin hal-hal menjurus bikin ngakak sama Yoga dan Darma. Bukan cuma itu, tapi selalu ada aja yang diomongin. Mulai dari topik hangat di Twitter sampe curhatan pribadi.

Kami juga suka ngediskusiin ciri khas masing-masing kalau lagi ngomong. Darma dengan, “Hmmm,” nya, Yoga dengan “Anjir! Tae lah!” Wulan dengan “Eh, iya ya.” Dan aku dengan penambahan kata “Ada,” Aku masih ingat Yoga dengan sialannya niruin cara ngomongku, kira-kira kayak gini,

“Kamu ada cerita sama dia kah? Trus ada bahas apa lagi?”

Sebagai satu-satunya orang WITA di situ, aku cuma bisa ngakak.

Sekarang, kami seolah sibuk dengan dunia sendiri. Atau pengen nenangin diri masing-masing dari masalah. Kami tau kami bukan anak kecil lagi. Masing-masing dari kami punya masalah sok dewasa, atau mendewasakan. Yang jelas, aku nggak pernah berpikiran kalau kami udah berubah satu sama lain. Walaupun waktu dengerin lagu We Don’t Talk Anymore, aku gatal pengen ganti liriknya jadi, 

“We don’t fak anymore. We don’t fak anymore. We don’t fak anymore. Like we used to do.
We don’t laugh anymore. We don’t laugh anymore. What was all of it for?”

Ya, kami berempat nggak fak dan laugh anymore. Bukan, bukan ngeseks bareng sambil ketawa riang gembira. Tapi FAK. Fiksian, Abundance, Kekeluargaan. Hahaha. Maksa banget. 

Oke, maksudnya fiksian itu, kami dulu ada bikin tulisan fiksi bareng. Abundance, yang artinya kelimpahan, aku ngerasa kami kelimpahan banyak bahan obrolan. Kekeluargaan, kami saling percaya dengan ceritain masalah pribadi kami. Dan aku ngerasa mereka bertiga dekat walaupun nyatanya jauh. Walaupun kami cuma kenal di blog. Walaupun kami sama sekali belum pernah ketemu. 

Buatku, We Don’t Talk Anymore ini nyeseknya bukan cuma karena tentang putus cinta, tapi juga karena putus komunikasi. Dan buatku yang berkepribadian melankolis ini, sementara Wulan dan Yoga itu sanguinis, trus Darma plegmatis, aku pengen bilang kalau baiknya kita stop pura-pura bahagia kayak lagu ini. Ayok, saling ceritain masalah kita. Ayok, kayak dulu lagi. 

Huaaa. I'm sorry, I'm sorry. Melankolis parah ini.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

TRANSLATE

YANG PUNYA KEHIDUPAN TERKETIK

Foto Saya

Makhluk Tuhan yang diduga kuat pengidap alzheimer kelak di hari tua, Makanya suka nulis, menceritakan apa yang perlu maupun yang gak perlu, sebuah kebiasaan yang diimpikan akan jadi sebuah kesuksesan. Moody-an, tapi disitu ngerasa masalah yang bikin mood jelek itu jadi sumber ide untuk nulis. Terobsesi untuk gendut, agar gak cuman kentut sama rindu aja yang ngumpul di badan. Si masokis yang terima saja dihujat pacar sendiri, dan tak lupa menghujat balik, lewat blog ini.
Copyright © TERKETIK | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com