Minggu, 25 September 2016

Nge-BF Bareng: Gangbang-in Empat Film Romantis

Mungkin aku menganut paham “Berdua lebih baik." Akhir-akhir ini aku lagi suka nulis review atau ngebahas film bareng orang. Setelah ngebaperin film sama Darma dan nulis post kolaborasi sama Ilham, kali ini aku ngebaperin film atau yang biasa kusebut sebagai nge-BF, bareng Haris Firmansyah. Penulis buku, blogger, (dan baru-baru ini) vlogger. 

Bang Haris dikenal sebagai blogger humoris yang suka memparodikan banyak film dan lagu di blognya. Dia punya beberapa film romance yang jadi kesukaan. Yaitu (500) Days of Summer, You Are The Apple of My Eye, Dear John, dan The Notebook. 

(500) Days of Summer bercerita tentang Tom Hansen yang terlibat friend zone sama Summer.

Sumber: Google Image

Lalu You Are The Apple of My Eye, tentang cinta masa sekolah Ko Chin-Teng yang manis, tapi sayangnya berakhir tragis ketika mereka udah dewasa. 

Sumber: Google Image

Dear John, tentang kisah cinta hubungan jarak jauh yang tragis tapi berakhir manis. 

Sumber: Google Image

Dan The Notebook, tentang cinta beda kasta yang berakhir bahagia. 

Sumber: Google Image

Fix. Ngeliat selera film beliau, aku jadi mikir. Selain humoris, Bang Haris juga manis. Atau lebih spesifiknya... menye-menye. 

Dan, nge-BF sama Bang Haris bukan cuma ngebaperin satu film, tapi empat film di atas. Udah kayak diajak gangbang aja. Sekali hadap langsung empat. 

Langsung aja, nge-BF ada di bawah ini.

Icha: Di antara film (500) Days of Summer, You Are The Apple of My Eye, Dear John, dan The Notebook, aku sukanya The Notebook sih. Karena ada tentang penyakit alzheimer. Allie jadi nggak kenal siapa-siapa. Trus itu buku yang dibacain Noah, bukunya Allie kan?

Haris: Iya. Kalau zaman sekarang, Noah bacain blognya Allie. Ntar judul filmnya jadi The Blog. Mana ada kan cewek zaman sekarang yang nulis di buku catatan, notebook. Kalau notebook laptop sih iya.

Icha: Hahaha. Alzheimer itu serem ya. Bikin lupa orang terdekat. Tapi Noah tetap sayang sama Allie. Emang ada ya, cowok kayak Noah gitu?

Haris: Ya ada. Cewek kejam kayak Summer aja ada. 

Icha: Okay. Bang Haris sedih nggak sih nonton The Notebook?

Haris: Saya malah seneng. Senengnya, ada cewek yang berani jujur sama perasaannya. Berani ngelawan orangtua dalam tanda kutip. Ngelawan dalam artian baik. Kalau soal jodoh mah urusan kita aja. Orangtua mungkin bisa nyaranin, tapi kita yang ngejalanin. Kalau menurut kita, dia itu pas buat kita, yaudah. Bicara dari hati ke hati sama orangtua. Orangtua juga pernah muda kan. 

Icha: Yap. 

Haris: Dan kebetulan Ibunya Allie pernah ngalamin yang dialamin Allie. Suka sama cowok yang biasa-biasa aja. Padahal Ibunya dari keluarga berada. Ibunya punya kebiasaan suka ngeliatin cowok yang dia suka itu walaupun udah nikah. Dan menurut pengakuan Ibunya Allie, cowok itu udah nggak kenal lagi sama Ibunya Allie. Sementara Ibunya Aliie sampe sekarang nggak bisa lupa. Itulah, akibat dari nggak mau jujur sama perasaan sendiri dan nggak mau memperjuangkan. 

Icha. Deep. 

Haris: Kemapanan itu nggak ada sih kalau kata saya. Hidup ini nggak pasti. Si Allie kan disuruh Ibunya biar sama tunangannya itu...

Icha: Itu ngingatin aku sama tunangannya Cinta AADC 2!

Haris: Iya. Tunangannya Allie kayak tunangannya Cinta. Kemapanan, kenyamanan, itu cuma sementara. Roda itu berputar, Ga. Iya sekarang mapan. Besok tidurnya di tiker nggak ada yang tau kan? 

Icha: Noted.

Haris: Sementara yang namanya cinta, saat kamu kena alzheimer, si dia bakal selalu ada karena cinta menyatukan kalian. 

Icha: Berarti kalau aku kena alzheimer, aku nggak perlu khawatir, Bang?

Haris: Kalau kamu nemuin cowok yang sayang banget sama kamu, dia bakal selalu ada buat bacain cerita-cerita kamu di blog ke kamu. Sama bacain komentar-komentarnya juga. Bacain komentarnya Niki Setiawan. 

Icha: Bajingak. Komen yang suka nggak nyambung itu. Nanti aku tambah bingung. 

Haris: Hahaha. Mungkin kamu bisa lupa sama apa yang kamu tulis, tapi kamu tetap ingat sama komen-komennya Niki. Dan semua pertanyaan-pertanyaannya yang nggak nyambung sama isi postingan. Sama Niki kamu nggak bakal lupa. Dan nggak bakal bisa jawab. Kecuali Adibah sih. Dia bisa banget jawab pertanyaannya Niki. 

Icha: Ukhti Dibah yang terbaigh! Kayaknya Niki sama Dibah cocok deh. 

Haris: Cocok. Kalau Dibahnya mau sama Niki dan mau selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan Niki. Kalau kisah mereka difilmkan, judulnya The Question. Romantis hubungan kayak gitu. 

Icha: Hahaha. Iya. So sweet. Landon di film A Walk To Remember juga so sweet. Bad boy yang berubah jadi baik demi orang yang dia sayang. 

Haris: Saya belum nonton tuh filmnya. Tapi saya pernah baca cerita kayak gitu, Tentang bad boy yang berubah jadi cowok baik-baik. Di novel-novelnya Orizuka. Emang cewek-cewek sukanya sama bad boy gitu ya?

Icha: IYA! BAD BOY YANG BAIKNYA CUMA SAMA CEWEK YANG DIA SAYANG! AAAAK.

Haris: Tapi, cowok-cowok tuh, atau apa cuma saya, suka sama tokoh cowok yang nggak bisa berantem kayak Tom Hansen. Sekalinya jatuh cinta, dia berubah jadi kuat. Jadi berani buat nonjok orang yang godain Summer, walaupun habis itu dia kena tonjok juga. Saya sebagai cowok, suka sama tokoh utama cowok kayak gitu. Apa karena sayanya cowok lemah ya, bukan bad boy. Hahaha. 

Icha: Hohoho. Trus kalau karakter tokoh utama cewek yang Bang Haris suka, yang mana?

Haris: Saya suka Summer. 

Icha: Lho, katanya Bang Haris, Summer itu jahat?

Haris: Bentar. Saya jelasin. Satu persatu. Saya suka Summer, karena dia mau dengerin cerita Tom Hansen. Sebenarnya Summer juga datang ke hidup Tom buat ngasih tau kalau Tom itu nggak cocok kerja di tempatnya sekarang. Summer tau apa yang Tom inginkan. Tapi nggak sukanya ya dia seenaknya ninggalin Tom. 

Icha: Oke. 

Haris: Kalau Savannah.... Savannah itu oportunis. Dia suka sama John, tapi nikahnya sama orang lain. Walaupun alasan nikah sama Tim karena kasihan. John sempat bingung kan, Savannah ini kurangnya apa. Cantik, baik, kaya, berjiwa sosial. Tapi ternyata kurangnya ya itu. 

Icha: Lalu?

Haris: Kalau Shen Cia-Yi, bisa bikin Ko Chin-Teng jadi baik dan rajin belajar. Dan.... saya paling sukanya sama Allie. Di antara cewek-cewek itu. 

Icha: Karena dia jujur sama perasaannya?

Haris: Iya. Kayak lirik lagunya Cukup Siti Nurbaya-nya Dewa I9. Katakan pada Mama. Cinta bukan hanya harta dan tahta. Pastikan pada semua. Hanya cinta yang sejukkan dunia~

Icha: Good. 

Haris: Jadi, Allie dan Cinta udah bener ninggalin tunangan mereka demi orang yang mereka cintai, walaupun akhirnya dicap sebagai cewek nggak bener. Mending, daripada udah jadi kan. Nanti selingkuh. Udah zinah, selingkuh. Mending sekarang. Masih bisa digoyah dan digoyang. 

Icha: Baru mau ngomong digoyang itu. Bajingak. 

Haris: Hehehe.

Icha: Jadi, kesimpulannya?

Haris: Kesimpulannya, jadilah seperti Noah dan Allie. Noah nemenin istrinya mati di ranjang yang hangat. Mirip impiannya Jack dan Rose. Noah itu sabar. Ngerti apa yang seharusnya dia lakukan. Dia nggak nerima gitu aja kan. Nggak ngambek kayak, udah, kamu sama dia ajah. 

Icha: Anjir. Sok imut. Oh iya, aku jadi kepikiran kalau Noah dan Rangga itu mirip! Sumpah ya, The Notebook sama AADC 2 itu mirip!

Haris: Iya, mirip. Tentang nggak mengandalkan kemapanan. Kalau kitanya udah nggak mapan lagi, ya bubar. Kalau mengandalkan rasa cinta, walaupun Allie itu pikunan, Noah tetap bertahan. Cinta itu bisa menghasilkan kesabaran, keikhlasan, qanaah, ikhtiar, tawakal. 

Icha: Hamba Ichtiar. 

Haris: Ya. Ikhtiar untuk menceritakan ulang. Padahal kalau dikasih cerebrovit, juga hilang pikunannya.

Icha: Obat untuk pelajar.

Haris: Pelajar asmara. Hmm. Kalau kamu, sukanya tokoh cowok yang mana?

Icha: Landon sik. Tapi Bang Haris belum nonton. Yaudah, aku suka John. 

Haris: Karena berotot ya?

Icha: NGGAK! Aku suka John, karena aku suka sama cowok yang tertutup trus mau terbuka kalau sama aku. Ada kebanggaan tersendiri gitu kalau bisa ngebuat cowok itu terbuka dan ngebuat dia nggak ngerasa sendirian. Kayak Savannah ke John. 

Haris: Ini maksudnya John Pantau kan?

Icha: BUKAN!

Haris: John Pantau kan membuka hal-hal yang ditutupin dari orang-orang. Mergokin anak sekolah di warnet misalnya. 

Icha: Brahahahaha. Masih ingat aja sih Bang Haris. Ehm. Jadiiiiiiii? Belum selesai nih ternyata.

Haris: Jadilah seperti Tom Hansen, yang bisa bangkit meskipun terluka. Jadilah seperti Allie-Noah, yang jujur dengan perasaan mereka masing-masing. Melawan orang tua dalam ya itu tadi, dalam tanda kutip. Jadilah seperti Ko Chin-Teng, yang merelakan cewek yang dia sukai. Dan jadilah seperti John. Kutunggu jandamu.

Icha: Anjir. Terakhirnya sialan.

Haris: Tapi kayaknya Savannah nggak ngapa-ngapain sama Tim. Cuma buat kasih hak asuh anaknya gitu buat Savannah. Savannah janda rasa perawan.

Icha: Bajingak. Oke. Satu lagi kalau boleh nambahin. Jangan mau kalah sama jarak. 

Haris: Tanaman jarak itu kan?

Icha: TENGS. 

Haris: Oh iya, makna dari film Dear John ini adalah, cinta akan bertemu pada waktunya.

Icha: So sweet~

Haris: Ini kamu panjang nggak? Kalau kepanjangan, bisa dibikinin sampe part 2. Anjir. Kayak Warkop DKI Reborn aja. 

Icha: Hahaha. Reborn. Btw, Tuyul dan Mba Yul mau dibikin reborn-nya gitu. Hahahaha. 

Haris: Hahahaha. Eh. Ini lagu Tuyul dan Mba Yul. Ini cerita di pelaminannya. Son Agia sedang bersedih. Yuliana yang dulu suka padanya. Kini dilamar sudah. Son Agia tak mengerti. Di chatting dibalasnya. Mengundang Son Agia untuk datang ke pernikahan. Tapi Agianya lariiiiiiii.

Icha: HAHAHA. Lagu yang indah buat Agia. 

Haris: Hahaha. Lagu yang indah. Eh tapi jangan deh, kasihan tauk.

Dialog penutup yang tragis. Maafin ya, Agiaaa. Tetap sumanget!

Dari film (500) Days of Summer, You Are The Apple of My Eye, Dear John, dan The Notebook yang dibaperin di atas, aku paling membekasnya sama The Notebook. Makna di The Notebook yaitu melawan orangtua demi jujur sama perasaan sendiri, itu dalam tanda kutip. Dalam artian baik. Sama kayak kata sombong di lagu Gapapa Jelek yang Penting Sombong-nya Chandra Liow ft Devina Aurel & Eka Gustiwana. Sombong dalam artian baik.

Ya, semoga postingan ini, biarpun panjang, tapi menggairahkan dibaca kayak lagi mainin dildo. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 18 September 2016

Dinakalin Gaspar Noe dan Ilham Bachtiar

Bermain game werewolf di Telegram bisa menambah banyak teman. Dari sekian orang yang mau temanan sama aku di grup WWF (World Werewolf Federation), ada satu orang yang paling bengal. Namanya Ilham. Dia adalah pemilik blog ilhambhaca.blogspot.id. Blog yang enak dibaca karena ada banyak review film dan kata-kata yang bikin ngakak.

Tingkah bengalnya banyak sih. Salah satu kebengalannya adalah, saat dia ngajak buat bikin proyek kolaborasi nulis di blog. Nge-review film bareng. Aku kaget sih, tambah kaget pas kalimatnya yang,

“Nge-review film yang belum kamu tonton. Trus kamu nanggepin review-ku. Jadi kamu bener-bener buta sama film yang aku review itu. Tulisan kita jadi satu post. Aku di atas, kamu di bawah.”

Nge-review film yang belum aku tonton? 

Sungguh-apaan-itu-bajingak.

Trus, dia di atas, aku di bawah? 

Kayak missionary anjir. 

Ilham bilang kalau project itu isinya ada dua pikiran. Yang satu udah nonton, yang satu belum nonton. Atau pengertian lainnya, yang satu mesum beneran, yang satu mesum settingan. Keren juga sih idenya.

Aku pun mengiyakan dengan mantap. Jadi dia semacam guest blogger di blogku ini. Halah. Blog beginian pake ada tamunya segala.

Ilham memilih Enter The Void sebagai film yang kami review bareng.


Sumber: Dikirimin Ilham.

Dan ini dia, review dari Ilham. Yang di bawahnya ada review dariku dari review-nya Ilham. Aku dan Ilham berusaha, pembaca menentukan. 



Ilham:

Enter The Void merupakan film ber-genre drama-fantasi yang patut disebarluaskan layaknya berita hoax kemunculan Dajjal di jalur Pantura. Film ini didalangi oleh Gaspar Noe yang bagi saya sangat berhasil mengemas materi seks, drugs dan kematian dalam durasi 161 menit.

Seks, drugs dan kematian tentu bukan materi baru dalam film. Namun, Enter the Void sukses memberikan pengalaman nonton yang berbeda dari film kelam yang lain. Enter The Void berkisah tentang seorang pria bernama Oscar yang berprofesi sebagai kurir narkoba. Film ini baru benar-benar dimulai saat Oscar mati tertembak di sebuah bar saat sedang melakukan transaksi. Biasanya film selesai kalau tokoh utama mati. Ini tokoh utama mati malah film baru dimulai. Alur ceritanya mundur? Bukan! Film ini bercerita setelah si tokoh utama mati. Wadefak!

Sudut pandang orang pertama dalam film ini benar-benar kentara, sebab kita diajak untuk melihat apa yang Oscar lihat. Setelah Oscar mati, kita akan dibawa melayang di atas kota Tokyo layaknya arwah penasaran. Melalui out of body experience itulah kita bisa melihat bagaimana Oscar mengawasi orang-orang terdekatnya seperti Linda (adik Oscar), Alex (teman Oscar), dan Victor (pelanggan narkoba). 

Tak seperti mengintip ala manusia hidup, sebagai arwah, Oscar tidak memiliki batasan dalam penglihatan. Ia bisa menembus tembok dan atap yang memungkinkan ia melihat hal-hal intim seperti saat adiknya bercinta dengan Mario (bos Linda). Bahkan ketika Linda bercinta dengan Alex, Oscar dapat masuk kedalam pikiran Alex sehingga ia merasa sedang bercinta dengan adiknya sendiri.

Ide arwah penasaran ini diangkat oleh Gaspar Noe melalui buku Tibetan Book of the Dead. Buku kematian orang Tibet itu diterjemahkan secara visual dengan apik oleh Noe. Tehnik steadycam yang digunakan Noe benar-benar mengagumkan. Bagi saya, Enter The Void ini melebihi Birdman (Alejandro G. Inarritu).

Dari keseluruhan visual yang disajikan, kita akan lihat bagaimana unsur psydhelic tersajikan lezat dalam film ini. Gaya psydhelic ini menyajikan distorsi visual dan narasi eksperimental yang kental dengan kejujuran dalam memvisualkan sesuatu. Sehingga jangan kaget jika kamu nantinya melihat adegan seks yang begitu vulgar. Bahkan di umur saya yang kesekian ini, ada satu scene yang cara pengambilan gambar untuk adegan seksnya itu baru pertama kali saya saksikan.

Psydhelic yang kuat membuat kita harus waspada, sebab akan muncul scene yang membuat perut mual. Saya sendiri perlu mengambil jeda cukup lama untuk menyelesaikan film ini. Selain efek psydhelic yang memabukkan, alur cerita juga bikin pusing seputing-putingnya. Jalan cerita yang tidak bisa ditebak apa maunya hati salahkah kita.. Bangsat malah nyanyi lagunya Asmirandah!! Maksudnya, gak usah berlelah-lelah menebak jalan ceritanya. Nikmati saja!

Btw, saya jadi ngebayangin kalau live action-nya Death Note itu menggunakan tehnik steadycam tingkat tinggi macam Enter the Void ini sepertinya asyik. Diambil dari sudut pandang Ryuk si Shinigami, terbang menyaksikan dampak Death Note dan masuk dalam pikiran Kira. Atau kalau mau yang lebih gurih kita bisa berharap agar film Doraemon menggunakan tehnik yang sama juga. Jadi mengambil sudut pandang Doraemon, terus terbang pakai baling-baling bambu. Lagipula saat masuk lorong waktu yang ada di lacinya Nobita itu kan mencerminkan sensasi psydhelic juga. Mantaps!!

Yah.

Jika kamu tipe orang yang suka memperkaya pengalaman menonton film, Enter the Void adalah pilihan tepat. Jangan lupa pakai headset atau earphone biar suara orgasm-nya gak terdengar sama tetangga sebelah. Minum antimo juga gaes, rawan mual. Kalau capek bisa istirahat dulu. Nanti kalau libidonya sudah terisi baru lanjut nonton. Oiya, jangan lupa tisu atau daun pisang juga perlu disiapkan, buat jaga-jaga. Bukannya mau berpikir yang jorok, hanya saja hasrat ingin menyiram tembok dengan protein tinggi itu bisa datang kapan saja. Biar temboknya lebih artistik dan kokoh. PAAN SIH..??!

Sudah ya. Semoga bermanfaat. Bhay gaes!!


Bonus:

Sumber: Son Agia, blogger yang mencintai Ilham diam-diam.



Icha:

Ngebaca review Enter The Void-nya Ilham di atas, bikin aku yang di bawah ini jadi seneng. 

Pertama, karena aku nggak ngerasa sendirian, yang suka sama film kelam nan depresif. Dulu aku sempat mikir gitu pas Ilham nge-review Requim For A Dream. Aku ngumpat kesenangan dalam hati. Yang aku rasain soal filmnya, juga dirasain sama Ilham. Dan oke, Enter The Void tentang narkoba. Ngingatin lagi-lagi sama Requim For A Dream. Aarrrghh, Requim For A Dream mulu, Cha! Huhu. Gini deh kalau referensi filmnya masih sedikit.

Kedua, karena aku ngerasa Ilham lebih mesum daripada aku. Udah milih film yang beginian, yang kalau kata dia Enter The Void adalah best visualization of sex ever, kata-kata di review-nya pada vulgar. Seputing-putingnya. Tisu atau daun pisang. Hasrat ingin menyiram tembok dengan protein tinggi. Madefaqa. 

Fix, Ilham mesum padahal suka ngatain orang lain mesum. Fakta terungkap! Aku seneng!

Sebelumnya Ilham juga nyaranin beberapa judul buat post ini. Di antaranya yaitu, 

SENSASI SANGE BARENG GASPAR NOE

ENTER THE VOID: BOKEP EKSPERIMENTAL

FILM YANG BEREKSPERIMEN DENGAN BIRAHI

KENAKALAN OM NOE. 

Liat? Mesum banget nggak sih? Bandingkan sama pilihan judulku yang tergolong aman itu.

Selain ngasih kesenangan, review Ilham ngasih kekesalan juga. Aku kesel karena ‘nggak dibolehin’ nonton Enter The Void itu. Jadi aku milih buat nonton Irreversible, filmnya Gaspar Noe, sutradaranya Enter The Void demi tau bakal mau nulis apa di post ini.

Irreversible sungguh bedebah. Terkenal dengan scene pemerkosaan brutal pemeran wanitanya, Alex (Monica Belluci), bikin aku mikir kelamnya cuma itu doang. Tapi ternyata aku salah. Kalau Enter The Void nggak pake alur mundur, Irreversible pake alur mundur. Awal filmnya kelam banget dan bikin pusing nontonnya. Kameranya bergerak semaunya mutar sana mutar sini. Musik latarnya bikin sakit telinga. Pencahayaannya minim kayak warung remang-remang. Berkali-kali aku ngelontarin kalimat, 

“Thanks ya Ilham. Minta disiram cairan semennya memang kamu ya. Ini filmnya ngerenggut rasa nyaman banget sialan."

Lalu di pertengahan film sampai menjelang ending, ‘warung remang-remang’ itu jadi terang benderang. Kameramennya jadi nggak kayak orang mabok lagi. Dan ending-nya, bikin nyesek. Aku udah cukup dibikin nangis pas Alex yang ngambek sama pacarnya itu diperkosa sama germo, lah kenapa ending-nya gitu coba? Belum lagi ada kalau-katanya-Movfreak, scene abstrak berupa cahaya putih benderang dan ambience yang menusuk telinga. Bikin takut. 

Irreversible juga punya scene yang bikin mual menurut aku. Salah satu tokoh pria memukuli pria di bar dengan tabung pemadam kebakaran sampai mukanya benyek. Mungkin nggak ada apa-apanya dibandingin sama Enter The Void, tapi cukup bikin kesel. Film tipe ginian bikin penasaran kalau nggak ditonton. Tapi kalau ditonton, bikin mual. Itu yang ngeselinnya. 

Huaaaaa. Gaspar Noe adalah sutradara yang nakal. Dan Ilham adalah blogger yang nakal. Fix, aku dinakalin sama dua lelaki itu. Huhuhuhu. 

Tapi Om Gaspar Noe dan Ilham tuh nggak pernah niat jahat. Gue tau banget. Roda tuh berputar, Ga. 

Nggg maksudnya, ‘kenakalan’ mereka berdua itu keren. Mereka berdua cerdas.

Om Gaspar Noe bikin aku ngerasa Irreversible punya makna yang dalam. Kita nggak pernah tau nasib kita selanjutnya bakal kayak gimana. Mungkin sekarang kita bahagia, tapi siapa yang tau kalau semenit, sedetik, kemudian kita jadi sedih banget? 

Lalu Enter The Void juga bermakna yang nggak kalah dalam. Tentang rasa sayang sang kakak terhadap adiknya yang teramat besar. Pas Oscar, sang kakak udah mati pun, masih bisa berada di dekat Linda, sang adik. Seenggaknya itu yang aku tangkap dari trailer-nya. 

Dan Ilham yang milih Enter The Void buat di-review, jadinya aku tenonton Irreversible, bikin aku ngubah pemikiranku akan Tokyo dan Paris. Tokyo yang dulunya aku pikir adalah kota yang selalu ceria dan Paris yang aku pikir selalu romantis. Sekarang, pandanganku akan dua kota itu nggak sama lagi. 

Sama aja kayak orang ceria, nggak selamanya dia ceria. Bisa aja dia jadi orang yang depresi. Orang yang romantis, nggak selamanya dia romantis. Bisa aja dia punya sisi dirinya yang dingin dan ketus. Semua orang pasti punya sisi kelamnya sendiri. Dan baiknya jangan dilihat kalau itu adalah keburukan. Itu manusiawi.

Anjir. Malah sok bijak.


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Minggu, 11 September 2016

Perempuan Irasional

Selain nggak dapatin pintu maaf yang terbuka lebar atas kesalahan yang diperbuat, nggak nonton film layar lebar juga bikin sedih. Aku nggak nonton Don’t Breathe, film yang bikin aku penasaran. Ngeselinnya, Darma udah nonton. Aku juga nggak nonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Padahal pengen liat Abimana pake gigi palsu. Huhuhu.

Tapi toge palsunya Olyvia artis Bigo jauh lebih bikin huhuhu sih. Yang soal operasi toge itu. Bikin aku pengen curhat pake kalimatnya dia. Jadinya, 

“Ini gue nggak nonton bukan karena lagi sakit. Sakit hati nonton sendirian mulu. Bukan. Gue itu nggak nonton karena dompet gue bokek. Noh bokek noh. Nggak keliatan apa? Bokek banget nih. Mampus lu mampus lu tuh. Blenger blenger dah  lu liat dompet gue.”

Huhuhu. Ibarat kayak main game Werewolf di Telegram, peranku sekarang jadi mason. Tugasnya mason dan pengangguran itu sama. Sama-sama harus bisa bertahan hidup.

Tapi sebenarnya aku nggak sedih-sedih banget sih. Banyak juga yang nge-review film Warkop DKI Reborn itu mengecewakan. Kayak review-nya Movienthusiast dan Raditherapy. Trus juga karena aku masih kepikiran sama film Irrational Man. Film keluaran tahun 2015 yang disutradarai Woody Allen. Yang jadi pemeran utamanya itu Joaquin Phoenix. Aktor yang main di film Her. Nggak nyangka aja gitu, soalnya penampilan fisiknya beda kali ini. Dan ada Emma Stone-nya juga.

Theodore si anak pantai. Bukan anak gadget.
Sumber: Google Image

Film ini direkomendasiin Tata dari kapan tau. Film yang bikin Dina bilang dia suka banget sama akting kembaranku, Emma Stone. Film yang bikin aku mikir yang lebih pantas jadi kembarannya Emma Stone itu Tata aja, karena dia tau film ini duluan daripada aku. Huhuhu. 

Dina bilang kalau Irrational Man punya ending yang nggak terduga. Kalau buatku yang baru mulai nontonnya, udah nemuin hal yang nggak terduganya sih. Yaitu Emma Stone putih bangeeeeeeeet! Cantik parah. Madefaka!

Icha Hairunnisa lagi ngelumat permen kapas.
Sumber: Google Image

Film ini bercerita tentang sebatang (karena dia cowok) dosen filsafat bernama Abe Lucas (Joaquin Phoenix) yang baru mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil. Di sana dia bertemu dengan sesama dosen bernama Rita Richards (Parkey Possey) dan mahasiswi cantik nan cerdas bernama Jill (Emma Stone, kembar dempetnya aku).

Di film ini Joaquin Phoenix juga memerankan karakter cowok melankolis kayak di film Her. Yang ngebedain, karakter Abe yang dia perankan itu berkharisma. Meskipun rapuh, nggak punya semangat hidup, suram, putus asa, ngerasa nggak berharga, ngerasa hidup gitu-gitu aja, nggak punya tujuan hidup, tapi dia ngebuat Rita dan terutama Jill, jatuh cinta padanya. 

Rita yang sudah bersuami tingkahnya jadi kayak jablay kalau bareng Abe. Sedangkan Jill, udah punya pacar ganteng dan baik hati bernama Roy (Jamie Backley), tapi masih sering ngabisin waktu sama Abe buat berdiskusi soal filsafat. Ujung-ujungnya, rasa kagum Jill ke Abe, berubah jadi cinta. Dia rela main serong sama om-om. 



Tapi Abe udah sering negasin kalau hubungan mereka nggak bisa lebih dari mahasiswi dan dosen yang berteman baik. Abe memilih fokus sama Rita, berharap dengan itu dia bisa nemuin semangat hidupnya lagi. Tapi Jill tetap berusaha ‘nyerahin’ dirinya ke Abe. Berharap bisa membangkitkan gairah Abe buat menikmati hidup.

Di awal-awal film, aku pikir Irrational Man nyeritain tentang hubungan terlarang antara wanita bersuami dan temannya, atau romansa antara mahasiswi dan dosennya. Tapi pemikiranku dirusak oleh adegan Jill dan Abe lagi di kafe. Mereka berdua menguping obrolan wanita beserta teman-temannya. Wanita yang lagi curhat kalau ada hakim yang nggak adil padanya, karena memenangkan hak asuh anaknya ke mantan suami, padahal sang mantan suami nggak memperlakukan anaknya dengan baik. 

Kalimat sang wanita yang, “Aku berharap hakim itu terkena kanker,” menjadikan Abe mikir, “Dia takkan terkena kanker, karena berharap itu tidak akan bekerja. Jika kau ingin dia mati, kau harus mewujudkan itu.” 

Abe mutusin buat ngelakuin rencana pembunuhan hakim itu. Atas dasar ingin ‘menerapkan’ teori filsafatnya ke dunia nyata. Dan kalau dia yang ngebunuh, nggak bakal ada yang ngeduga karena Abe nggak punya motif. 

Demi terwujudnya pembunuhan sempurna, Abe memantau Hakim Spangler setiap harinya. Udah kayak Komo Katakan Putus aja gitu. Abe ngawasin dan ngikutin Hakim Spangler. Ngomong-ngomong soal Komo, katanya dia ngundurin diri ya? Please, kasih tau aku itu apa bener apa enggak, gengs.

Merencanakan dan berhasil mewujudkan pembunuhan, ngebuat Abe jadi punya semangat hidup. Dia bisa bercinta sama Rita, padahal sebelumnya nggak bisa karena ‘susah nancap’. Dan dia bisa ‘membalas’ perasaan Jill padanya. Abe ngerasa akhirnya dia punya semangat hidup lagi. 

Semangat hidup yang irasional. Menciptakan pria irasional.

Dan aku ngerasa makin kembaran sama Emma Stone karena nonton film ini. 

Emma Stone mampu meranin karakter Jill. Si mahasiswi cerdas-cerdas binal. Dengan suara serak-serak ngegemesinnya, mata hijau bulatnya, senyumnya yang genit, kulitnya yang putih bersih, ngebuat aku mikir Jill adalah peran yang lebih binal daripada peran Olivia-nya di film Easy A. Dina berulang-ulang kali bilang kalau Emma Stone itu bitchy di film ini. Memang bitchy sih. Murahan. Murahan dengan cara yang mahal. 

Bukan menggoda dengan fisik, tapi dengan waktu yang selalu ada buat Abe. Ada buat dengerin Abe cerita soal kehidupannya. Karena Jill selalu tertarik dengan orang yang ‘menderita’ dan punya niatan memberikan semangat buat orang itu. Dan Abe yang punya berbagai masalah di hidupnya kayak Ibunya bunuh diri, istrinya selingkuh, sahabatnya meninggal dunia, adalah orang yang menarik buat Jill. 

Aku ngerasa aku bakal ‘sebinal’ itu kalau bisa dekat sama orang yang dikagumi. Terlebih lagi kalau orang itu butuh tempat curhat. Butuh sandaran. Mungkin aku juga bakal seirasional Emma Stone meranin Jill kalau udah jatuh cinta. Dan kalau misalnya aku disuruh buat milih mau hadiah apa di pasar malam, aku juga bakal kayak Emma Stone waktu di pasar malam, adegan di film itu. Milih senter. Golongan darah AB, sob. Sukanya yang anti-mainstream. 

FIX. AKU MEMANG TUKANG NGEBLOG KEMBARAN EMMA STONE. HUAHAHAHAHA.

Please jangan mikir ini postingan suram karena aku dengan pedenya bilang Emma Stone itu kembaranku. Lebih jangan mikir lagi Irrational Man itu film suram, karena filmnya ini ada komedinya gitu kok. Ada adegan yang ngingatin sama kasus Jessica-Mirna juga. Huahaha. Musik yang ngiringin adegan-adegan menegangkannya juga lucu, nggak matching sama adegannya tapi itu yang bikin menarik. Musiknya ceria padahal adegannya suram. Endingnya juga keren, membayar kekecewaanku akan alur ceritanya yang datar dan berjalan lambat. 

Yang paling penting, penampilan Emma Stone itu nggak suram. Bisa aja nampilin ekspresi jelek tapi tetap konsisten cantiknya. Emma Stone memang panutanku!




Cantik yang konsisten. Konsisten yang kayaknya setara dengan blogger konsisten.

Sialnya, aku juga tetap konsisten nyambungin satu film kemana-mana. Kali ini nyambungin ke tiga film, yaitu Requim For A Dream, Flipped, dan Radio Galau FM. Bikin nyambungin atau ngingatin sama Requim For A Dream, karena Abe mirip sama Sara Goldfarb. Tokoh di film depresif itu juga punya tujuan hidup yang irasional, yaitu pengen bisa pake gaun merah favoritnya yang udah nggak muat lagi. Buat tampil di acara tivi favoritnya. 

Lalu ngingatin sama Flipped, karena adanya penggunaan dua sudut pandang dalam satu film. Sebenarnya nggak dua sudut pandang juga, tapi lebih ke penggunaan dua narator. Kalau di Flipped, sudut pandang Bryce Loski ada dan sudut pandang Juli Baker juga ada, lewat adegan. Makanya satu adegan bisa ditampilin dua kali. Kalau di Irrational Man enggak. Cuma sebatas ada Jill jadi narator buat nyeritain adegan dan pemikirannya tentang Abe, ada Abe yang jadi narator buat nyeritain kegelisahan hidupnya dan rasa puasnya habis ngebunuh Hakim Spangler. 

Trus ngingatin sama Radio Galau FM, karena ada scene Jill dan Abe jalan bareng ke pasar malam. Kalau di Radio Galau FM, Felin milih boneka buat jadi hadiah permainan yang dimenangkan Bara. Sedangkan di Irrational Man, Jill milih senter.

Nggak semangatnya Abe dalam ngelakuin apapun dalam hidupnya, bikin aku mikir. Kalau setiap yang kita lakukan dalam hidup ini, harus ada tujuannya. Mau hal itu yang besar, hal yang penting, hal yang remeh temeh. Dan setiap orang punya tujuan yang berbeda-beda. Banyak tujuan yang bisa dijadiin contoh. Tapi aku pake tujuan kecil aja deh.

Contohnya tujuan nonton ke bioskop. Ada orang yang murni mau nonton filmnya. Ada yang karena buat ngabisin waktu. Ada juga yang mau main aplikasi live streaming. Kayak kasus orang ngebigo pas nonton Warkop DKI beberapa hari yang lalu. Tujuan nonton yang irasional.  

Irrational Man seolah ngasih tau, kalau dari awal udah pesimis sama hidup, bakal selalu bertindak irasional dan mengesampingkan moral buat seterusnya. 

Habis ngetik ini, rasanya pengen ngomong depan cermin di kamar, 

"Jangan jadi perempuan irasional ya, Cha."
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Rabu, 07 September 2016

The Sunshine Blogger Awards 2016



Entah mimpi basah apa semalam, aku bisa turut serta menjadi nominator The Sunshine Blogger Awards 2016. Ini kali pertama buat aku dapat beginian. Tahun 2016 ini juga jadi tahun pertama aku benar-benar menyeriusi review baper filmku. Review film tapi ada curhatannya. 

Dan entah salah minum obat kuat apa, Tommy Surya Pradana, penulis di blog review film favoritku, Distopiana.com, menominasikan blog ini. Blog review film abal-abal masih dalam proses pembangunan karakter ini. 

Terima kasih, Tom! Tommy! Bukan Tom Hansen! 

Distopiana.com sendiri jadi inspirasiku dalam nge-review film. Blog review film yang bikin aku tergila-gila sejak tahun 2015. Blog review film yang benar-benar beda. Entahlah, aku ngerasa pas ngebaca review Distopiana, kayak diajak ngobrol bertatap muka. Aku ngerasa diajak diskusi soal film yang di-review, bukan digurui soal film itu. Ibaratnya kayak diajak buat ena-ena bareng, bukan disuruh nonton adegan ena-ena. 

Blog review film yang sangat direkomendasikan. Bisa dikunjungi kapan aja, walaupun Tommy jarang apdet postingan (halah, kayak kamu nggak jarang aja, Chaaa). Bisa di-follow juga akun Twitter Tommy, @tomspr. Tommy cukup aktif ngetwit. Seringnya nge-review singkat film yang baru aja dia tonton, atau mengumpat kalau ada kebijakan pemerintah yang aneh (kamu gini kan, Tom?). Bisa juga kunjungin soundcloud-nya dia di SINI. Kalau beruntung, siapa tau bisa dinyanyiin dan dibikinin lagu sama dia. Ihiy.

Ngomong-ngomong soal dibikinin, The Sunshine Blogger Awards ini ada dibikinin peraturannya. Yaitu sebagai berikut:

1. Post the award in your blog
2. Thank the person who nominated you
3. Answer their 11 questions
4. Choose another 11 bloggers (and let them know they are nominated)
5. Set them 11 questions

Oke. Di bawah ini adalah jawabanku dari 11 pertanyaan yang dikasih Tommy. 


1. Apa film terakhir yang membuat Anda merasa feel-good?

Ryan Gosling. Eh, salah. The Nice Guys maksudnya.


2. Jika ada production company yang cukup gila untuk memberikan modal 200 Juta US Dollar untuk Anda memproduksi sebuah film, film seperti apa yang akan Anda buat?

Aku sering berkhayal bisa bikin film tentang pembalasan dendam. Genrenya thriller misteri atau thriller psikologi. Macam Oldboy, Kahaani, Gone Girl, dan Pieta. Kalau bisa, digabung dengan cerita tentang keluarga disfungsional. Filmnya mungkin sesakit Moebius, tapi ada unsur pembalasan dendamnya. Film kayak gitu mungkin nggak butuh biaya terlalu besar. Dan kayaknya bukan tipe film blockbuster sih. So, sisa modalnya aku pake buat naik hajikan orangtua aja. Hehe. Hehehe. He. He. 

Seenaknya sendiri ya. Huhuhu.


3. Jika Anda harus memerankan seorang public figure dalam sebuah film biopik, siapa public figure yang menurut Anda cocok untuk Anda perankan?

Sempat bingung mau jawab pertanyaan ini. Tapi akhirnya aku ngejawab.... Emma Stone! Alasannya sederhana. Aku ngefans berat sama Emma, dan sama-sama pernah punya kisah cinta kandas setelah tiga tahun dirajut. Seperti yang pernah aku semprotin di postingan Bang Haris Firmansyah yang INI.


4. Berdasarkan pertanyaan #3, siapa aktor/aktris yang Anda inginkan untuk memerankan kekasih sang publik figur?

Ryan Gosling. Selain karena aku nungguin banget film La La Land tayang, film yang dibintangi Emma Stone dan Ryan Gosling, juga karena karakter Noah yang Gosling perankan di film The Notebook, bikin aku pengen gelendotan dan pelukan sambil naikin kedua kaki tiap liat tiang listrik. Aku nggak mau segila itu lagi. Aku harus berpelukan dengan kaki-yang-menggelayuti-pinggang-si-yang-dipeluk-beneran. Sama Ryan Gosling. Huahaha. 


5. Buatlah sebuah playlist lagu yang dapat membangkitkan rasa percaya diri Anda!

The Real Slim Shady – Eminem
Beautiful – Christina Aguilera
I – Kendrick Lamar
Popular Song – Ariana Grande feat Mika
Sweatpants – Childish Gambino
Who Says – Selena Gomez 
Vagabond - Wolfmother
Cahaya – Tulus 
Becky From The Block – Becky G
Greedy – Ariana Grande
I’m Gonna Be – Big Sean ft Jhene Aiko


6. Sebutkan novel/komik yang sangat Anda inginkan untuk diadaptasi menjadi sebuah film!

Novel An Abundance of Katherines by John Green! Penasaran banget siapa aktor yang meranin karakter Colin dan Hassan! Berharap Hassan bakal diperanin Jonah Hill! Menantikan adegan Collin ngeliat tali bra salah satu Katherines ditampilkan secara eksplisit!


7. Berdasarkan pertanyaan #6, siapa yang Anda inginkan untuk menyutradarai film tersebut? 

Marc Webb. Pengen banget adaptasi An Abundance of Katherines bakal sekeren (500) Days of Summer. Pengen ada banyak scene yang diiringin soundtrack keren. Pengen ngerasain sensasi nonton film sekaligus kayak nonton music video sebuah lagu, mengingat Marc Web memulai karirnya sebagai sutradara video musik. Pengen ada kisah cinta masa SMA kayak di The Amazing Spiderman. Pengen Marc Webb pake Zooey Deschanel atau Emma Stone buat jadi salah satu Katherines. Ya, kalau nggak ketuaan sih.


8. Sebutkan 3 film terburuk yang pernah Anda tonton!
Single (film Raditya Dika membosankan yang pernah aku tonton), Midnight Angel (film Jepang gaje dan aneh), dan Annabelle (nggak ada serem-seremnya anjir).


9. Sebutkan 3 sekuel/prekuel film yang sangat Anda inginkan untuk terwujud! 

Hot Pursuit (suka banget sama chemistry Reese Whiterspoon dan Sofia Vergara), Superbad (favorit! Jonah Hill kayaknya cocok bromance sama siapa aja) 8 Mile (Eminem, kamu harus main film lagi!)


10. Jika suatu saat Anda harus berubah menjadi seekor binatang dan Anda harus untuk memilih, Anda ingin menjadi binatang apa?

Lumba-lumba. Lucu, menggemaskan, dan suka nyipok manusia. Trus aku juga penasaran sama fakta yang disingkap Yoga Siulan Cupang di blognya. Lumba-lumba suka memperkosa lumba-lumba lain. Hmm. Menarik. 


11. Terakhir, jika Anda diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mengubah sejarah peradaban, peristiwa apa yang akan Anda ubah?

Aku bakal mencegah kelahiran mantanku yang bedebah ke dunia yang fana ini. Supaya aku nggak sempat ngerasain susah move on selama dua tahun dan nggak dikatain sama Nina tiap kami ketemu. Padahal kejadian putusnya itu udah lima tahun yang lalu. Sial.


Selesai. Mencapai klimaks. Berhubung aku masih nggak punya banyak temen blogger yang nge-review film atau maniak nonton film, jadi aku menominasikan hanya beberapa blogger aja. 



Berikut 11 pertanyaannya: 

1. Apa film terakhir yang membuat kamu ingin berkata kasar? Atau berbuat kasar? Atau berkulit kasar? Pokoknya, film yang membuat kamu mengumpat karena film itu terlalu keren. 

2. Apa alasan kamu pergi ke bioskop selain ingin menonton film yang ditayangkan? Jangan bilang ingin memadu kasih.

3. Siapa tokoh superhero/antihero yang merupakan perwujudan dari fantasi liar kamu di malam yang sepi dan dingin?

4. Pilih salah satu. Film tentang rumah berhantu atau film tentang penduduk kota yang terjangkit virus zombie?

5. Bagi yang sudah menonton film Her, jika tokoh Samantha diperankan laki-laki dan namanya diganti menjadi William, siapa aktor yang menurut kamu dapat memerankannya?

6. Buatlah sebuah playlist lagu yang bikin kamu galau, tapi bukan tentang cinta!

7. Sebutkan judul film yang merefleksikan kehidupan kamu dan sertakan alasannya!

8. Siapa aktor/aktris yang kamu inginkan untuk memerankan kamu jika kisah hidupmu difilmkan? 

9. Sebutkan film adaptasi dari buku yang kamu sesali kemunculannya karena jauh lebih buruk daripada bukunya!

10. Sebutkan judul film yang menggambarkan persahabatan kamu dengan sahabatmu!

11. Sebutkan judul film yang kamu sangat benci ending-nya, dan kamu ingin mengubahnya jadi ending versi kamu sendiri!


Maafin pertanyaannya kalau rada kacos gitu. Huhuhu. Kalau mager bikin postingannya, bisa dijawab di kolom komentar. Masukin jawabannya. Masukin aja. Asal pas keluarnya, jangan keluar di dalam. Aku masih anak sekolah, Kak. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Selasa, 30 Agustus 2016

Nge-BF Bareng: Mending Backstreet Daripada Jadi The Lobster

Berawal dari menerima kenyataan pahit kalau banyak blogger (terutama blogger personal) yang hilang bak ditelan bumi, trus ada project dari grup Tulisan Wortel Share tentang nge-bully salah satu anggota grup, dan rasa kagum berlebihanku sama review Her punya Mas Dony, aku jadi kepikiran buat sok-sokan bikin rubrik. Namanya BF. 

Bukan Blue Film gaes, tapi Baperin Film. Konsepnya mirip kayak review film Her (dasar ikut-ikutan!). Ngebahas satu film bareng-bareng. Tapi yang ngebedain selain aku jauh di bawah Mas Dony yang udah pelahap film apa aja, orang yang aku ajak ena-ena ngebahas film itu adalah blogger yang nggak harus suka nonton film. Blogger yang udah lama nggak nulis. Dan blogger yang bisa dikorek luka lamanya trus jadinya curhat colongan baper deh. Huahaha. 

Teman nge-BF-ku kali ini adalah Darma Kusumah. Pemlilk blog berdebu (karena udah lama ditinggalkan penghuninya huhu) darmakusumah.blogspot.co.id. Darma adalah salah satu teman dunia maya yang cukup dekat sama aku. 

Selain karena kami sama-sama anggota grup iseng-iseng bernama WIDY, juga karena aku sering menyesatkan dia buat suka apa yang aku suka. Dia jadi suka nonton ke bioskop sendirian, karena aku sering cerita betapa enaknya nonton sendirian. Dan akhir-akhir ini tiap aku ngebahas satu film, dia langsung download dan nonton filmnya. 

The Lobster adalah salah satu film yang dia udah tonton. Bercerita tentang David (Collin Ferrel), seorang duda yang hidup di masa depan di mana ada aturan manusia-manusia yang nggak punya pasangan, ditempatkan di sebuah hotel dan diperintahkan buat nyari pasangan selama 45 hari. Kalau nggak dapat pasangan dalam waktu segitu, bakal dijadiin hewan. David memilih bakal jadi lobster. 

Tapi David memilih kabur dari hotel dan pergi ke hutan. Di sana dia bertemu perempuan yang bikin dia jatuh cinta. Dan si perempuan itu juga jatuh cinta sama dia. David akhirnya mendapatkan orang yang mencintai dia, tapi di tempat yang salah. Tempat yang nggak mengizinkan adanya cinta sepasang kekasih.

Sumber: Google Image


The Lobster jadi film karya Yorgos Lanthimos favoritku setelah Dogtooth. Aku senang sih Darma milih bahas film ini, karena aku pikir dia bakal curhat jor-joran soal kejombloannya, tapi ternyata.... 

Langsung simak aja ya. Dialog di bawah ini aku edat-edit biar (semoga) nggak spoiler


Darma: Filmnya aneh, Cha. Ide ceritanya nggak masuk akal. 

Icha: Aneh gimana? Nggak masuk akal gimana?

Darma: Bukan nggak masuk akal sih, tapi nggak terduga. Orang nggak punya pasangan, tapi dijadiin hewan. Trus... habis itu apa lagi ya? Ini kok jadi grogi ya gue?

Icha: Hahahahaha! Biasa aja anjir. 

Darma: Kalau didesak nih nggak suka anjir. 

Icha: Iya plegmatis tuh memang nggak suka didesak anjir.

Darma: Hahaha. Gue habis nonton filmnya, baca review-nya ya. Itu sutradaranya dari Yunani kan. Yang gue pikir, kayaknya sih filmnya agak berat cuman dikemas dengan sesuatu yang aneh. Karena orang Yunani kan filsuf semua gitu. Jadi gue pikir filmnya nggak bakal bisa diterima orang umum.

Icha: Aha.

Darma: Masuk satu jam pertama, agak ngebosenin sih. Kayak pengenalan karakter gitu kan. Lima puluh menit terakhir, mulai ada konflik-konflik, yang konfliknya tentang asmara. Gue pikir bakal tentang ke judulnya lebih lanjut. The Lobster. Ternyata nggak kan. Bisa diterima sih. Nah ada adegan yang menegangkan. Yang mata.

Icha: AAAAK AKU BENCI ITU. AKU GAK SUKA FILM YANG ADA ADEGAN MATANYA!

Darma: Hahaha. Gue udah mau skip tuh, tapi penasaran juga bakal gimana. Menegangkan sih kalau kata gue. Dan itu ending-nya..... gantung. Balik nanya buat penonton. Apakah karena cinta, kalian bakal rela menyakiti diri sendiri? 

Icha: Wuidih. Hahaha. Baper. 

Darma: Hahaha. Itu balik ke masing-masing penonton sih sebenarnya. Makanya di ending-nya adegannya gitu. Mungkin bagi penonton yang berani, udah berfantasi bahwa David ngelakuin hal itu. Tapi kalau bagi penonton yang masih punya ketakutan untuk berkomitmen, akan ragu-ragu. Apa karena demi itu jadi melukai diri sendiri?

Icha: Hmm. Curhat?

Darma: HAHAHA. Itu related ama lu tauk. Lu harus nonton lagi pokoknya.

Icha: HAHAHA. Related apanya anjir.

Darma: Gini lho, lu udah mulai suka main game kan?

Icha. Hahaha. Paan. 

Darma: Itu lu nggak jadi diri sendiri kan. Demi cinta. Related dong, related dong? 

Icha: Oooh.... kalau aku jadi suka main game, itu menyakiti diri sendiri gitu? 

Darma: Bukan sih. Lebih ke nggak jadi diri sendiri. Atau gini, lu mencari kesamaan sama orang yang lu suka. 

Icha: Ini kok jadi aku yang di-related-in? Padahal aku mau kamu tercurhat gitu. Sial.

Darma. Hahahaha. Jam terbang gue masih jauh di bawah. Gue nggak punya mantan sebanyak lu.

Icha: Nggak usah bawa-bawa mantan, ya. Trus, apa pendapat kamu soal David melukai dirinya sendiri? Padahal dia nggak perlu gitu. Dia bisa normal buat ngejagain ceweknya kan?

Darma: Hmm. Penggambaran filmnya kan, pasangan yang tinggal di kota itu, harus punya kesamaan. Mungkin kalau terlepas dari aturan itu, bisa aja David tetap dengan keadaannya yang biasa. Tapi David ngebuat dirinya jadi nggak biasa supaya punya kesamaan sama ceweknya. Mungkin umumnya ya, kalau kita cari pasangan yang punya kesamaan, bakal lebih mudah mendekatkan diri. Bakal lebih mudah membuka obrolan gitu kan. 

Icha: Betul. 

Darma: Nah itu udah mulai terjadi pas Davidnya sama ceweknya, perempuan rabun jauh.

Icha: Yap.

Darma: Pas si ceweknya buta, hubungan mereka jadi agak renggang gitu kan?

Icha: Iya! Nggak kayak dulu.... 

Darma: Nggak kayak awal-awal waktu mereka masih sama. Cuma dari obrolan sederhana lho, kayak kamu-ingat-kacamata-pertama-kamu. Obrolan sederhana yang mendekatkan gitu. 

Icha: Yaaaa~

Darma: Pas nanya penyakit yang sama-sama mereka punya, mereka nemu persamaan gitu kan. Jadi ngerasa klop. Dan David udah punya perasaan sama ceweknya kan. Akhirnya dia memaksakan juga supaya bisa senasib sama ceweknya. Makanya yaudah dia menyakiti dirinya sendiri demi kedekatannya itu, persamaan itu, bisa terjadi lagi. Nggak kayak obrolan-obrolan pas si cewek udah berbeda. Jadi nggg... basi banget.

Icha: Iya. Pas mereka udah berbeda, jadi memaksakan obrolan, Dar. 

Darma: Iya. Pada umumnya kali ya, perbedaan itu nggak seru. Lebih baik cari pasangan yang punya kesamaan. Lebih mudah buat beradaptasi sama pasangannya.

Icha: Jadi, The Lobster ini menurut kamu ngangkat tentang kalau kita berhubungan lebih dari sekedar teman, harus ada persamaan gitu? Tapi disajikannya secara ekstrem?

Darma: Iya gitu. 

Icha: Trus kamu setuju nggak kalau mau cari pasangan, harus yang sederajat? Misalnya harus sama-sama kaya? Itu termasuk nggak sih yang disindir di The Lobster?

Darma: Nggak tau sih. Cuman menurut gue kalau di The Lobster, persamaannya lebih ke fisik kali ya. Kalau materi kayaknya nggak. Ya kayak temannya David yang pincang, trus satunya si gagap. Ceweknya si rabun jauh. David rabun jauh. 

Icha: Oke. Trus filmnya nyindir kalau kita tuh kalau mau bahagia, harus punya pasangan. Scene waktu David masih di hotel, ada peragaan di panggung. Itu konyol banget tuh. Kalau nggak ada pasangan, jadinya bakal kayak gimana. Kalau ada pasangan, jadinya bakal gimana. 

Darma: Ya memang bener. Faktanya kalau berdua memang lebih baik. Waktu di hutan tuh, bener-bener harus mandiri. Di hutan ngegambarin kalau sendiri, memang harus bisa kuat banget. Harus bisa ngurus sendiri. 

Icha: IYA! Bahkan kalau misalnya mau mati, ngubur kuburan sendiri! Astaga. Hahaha. Konyol.

Darma: Hahaha. Iya tuh. Gue keselnya sama komandan yang di hutan. Jahat. Tega sama temannya sendiri. 

Icha: Itu dia saking pengen ngejaga hutan itu tetap jadi hutan para jombloers gitu kan. 

Darma: Serius tujuannya itu?

Icha: Hutan itu diciptakan buat orang-orang yang nggak tahan tinggal di hotel. Entah nggak tahan sama aturannya. Atau orang-orang yang nggak dapat pasangan tapi nggak mau diubah jadi hewan. Kaburnya ke hutan. 

Darma: Oooh...

Icha: Nah terus, orang-orang di hutan itu tugasnya nyari para jomblo yang bersembunyi di hutan buat ditangkap. Kalau para jomblo hotel dapat satu jomblo hutan, berarti dia dapat tambahan satu hari ada di hotel. Mereka dikasih jatah empat puluh lima hari gitu ya?

Darma: Iya. Btw nggak ada tuh adegan gituan parahnya! Kata lu ada? Weeek. 

Icha: Hahaha. Protes ya? Sori, sori. Aku lupaaaa. Aku kan nontonnya udah lama, pas sebelum bulan puasa!

Darma: Lu ketiduran kali nontonnya. Trus mimpi adegan gituan. 

Icha: Anjir. Nggak ada yang bisa dimimpiin dari filmnya tauk. Mukanya mereka nggak ada kebahagiaannya pas lagi begituan. Birahi kita pas lagi nonton adegan begituan tuh tergantung dari pemainnya sih. Kalau pemainnya kayak semangat, kita jadi ikutan... semangat. 

Darma: Iya. Nafsunya dapet.

Icha: Nah kalau ini nih, mainnya kaku. Yang nontonnya jadi nggak nafsu. Ngebatin ih apaan sih. Iya nggak sih gitu? Hahaha. 

Darma: Hahaha! Iya. Trus itu ada lho, yang di hotel yang si cewek nggak berperasaan itu. Si cewek kesedak. Pura-pura mati. Ek!

Icha: HAHAHAAHAHA. 

Darma: Si cewek bilang kita-kayaknya-cocok-deh. 

Icha: Hah? Aku nggak ngerti. Cocoknya gimana?

Darma: Iya, si ceweknya kesedak gitu kan, makan buah apa gitu. Trus pura-pura mati. Nggak ditolongin sama David. Si David padahal mau nolongin tapi bingung nolongin gimana. Ceweknya malah nangkepnya mereka sama-sama nggak punya perasaan. Sama-sama saling cuek. David padahal nggak cuek. 

Icha: Ohahahaha. ASTAGA! Pantesan si cewek tau-tau bilang cocok. Aku kira si cewek udah nyerah nggak dapat pasangan, makanya dia asal ngomong!

Darma: Hahaha. Itu ada pesannya. Ternyata pura-pura mencintai itu lebih sulit daripada berpura-pura menyembunyikan perasaan~ Baru ada adegan si pincang, anaknya sama pasangan barunya nemuin David.

Icha: Eh iya pas itu, David nendang kaki anaknya si pincang. Anjir. 

Darma: Supaya pincang. Hahaha. 

Icha: Anjir ngakak nonton itu.

Darma: Hahaha. Yang paling ngeselin si cewek nggak berperasaan itu lho. Ini cewek paan sih.

Icha. Hahaha. Komedi gelap gitu. Aku suka sih, tapi nggak suka-suka banget. 

Darma: Gue sih nggak nyampe komedinya di mana. Mungkin masalah selera kali.

Icha: Ooh... Ini, gimana kalau pas mereka lagi dansa di hutan? Sendirian? Menurutku itu lucu banget! Hahaha.

Darma: Hahahaa iya anjir. Ngakak. Sakit dansanya. 

Icha: Sumpah itu aneh banget. Mukanya datar, gerakannya kaku, jogetnya sendiri-sendiri. SEGITUNYA PESTA JOMBLO HAHAHA. Pokoknya itu kota yang nggak diimpikan jomblo banget deh.

Darma: Iya sih, di review Movienthusiast bilang gitu. Tapi gue nggak mikir ke sononya deh. Soalnya gini lho, ini related sama....

Icha: Hah? Paan lagi?

Darma: Hahahaha. Anggaplah hutan loners itu dunia blog. Di hutan nggak ada yang tau kalau David sama perempuan rabun jauh itu ada hubungan. Sama kayak siapa gitu~ 

Icha: HAHAHAHA. Darma. Fak.

Darma: Sama kayak kota itu... jam-jam malemnya siapa gitu. David dan perempuan rabun jauh bisa deketnya pas ke kota ke rumah ibunya ketua Loners doang. Sama kayak siapa gitu yang bisanya intens pas malem hari.

Icha: HAHAHAHAHA AKU NGGAK KEPIKIRAN SAMPE KE SITU! 

Darma: Nah kan itu related banget sama siapa gitu~ HAHAHAHA. Itu hubungan backstreet kan? Persis. 

Icha: HAHAHA DARMA KAMU HEBAAAAAT FAAK!

Darma: HAHAHAHA. Di publik mereka nggak gembar-gembor hubungan kan karena faktor keadaan. Jadi pasang-pasang kode supaya nggak ketahuan. Nengok sebelah kiri artinya mencintai kamu lebih dari siapapun. Sebelah kanan, waspada ada bahaya. Trus kalau angkat tangan sebelah kiri, dibelakangin, itu artinya~

Icha: I WANNA FUCK YOU. 

Darma: Nah itu artinya. Hahaha. Itu backstreet banget kan. Cocok sama siapa gitu yang juga pasang kode. Kalau komen di blog biasa aja. Padahal ada hubungan. Sama kayak siapa gitu.

Icha: Anjir. 

Darma: Gue ingat semua adegannya. Intinya backstreet banget. Related banget sama siapa gitu~ Huahaha. 

Icha: Aku nggak nyangka kamu malah nge-bully. Bukannya kamu yang kena bully. Temanya jomblo tapi malah ke backstreet. Njir. 

Darma: Hahaha. Gue nggak kemakan sama ketakutan jadi jomblonya dari filmnya itu. Lebih ke romansa cinta yang tergolong ekstremnya. Bapernya sama cinta bisa bikin kita menyakiti diri sendirinya. Dan berpura-pura. Standar abis sih.

Icha: Okaaay. Tapi unik. Yang habis nonton kebanyakan kemakan soal jomblonya. Trus David sama si pincang sama-sama berkorban menyakiti diri sendiri, tapi beda. Si pincang berkorban demi keuntungannya sendiri nggak jadi binatang, David berkorban karena cinta. Filmnya tentang kepura-puraan.

Darma: Ya. Intinya gue nggak kemakan jomblonya. Hahaha. Oh iya satu lagi, filmnya ini ngasih tau soal azab. Buat orang yang suka masturbasi sembarangan.

Icha: Hah? 

Darma: Kan temennya David yang masturbasi itu, tangannya dipanggang.

Icha: Ah iya! Aku baru inget adegan itu! Hahaha. Eh tapi di hutan bebas masturbasi kan?

Darma: Iya bebas. Hahaha. 

Icha: Ada pesan moralnya ya. Azab itu bisa didapatin di dunia nyata, nggak cuma di akhirat kelak.

Darma: Hahaha. Pesan agamis.

Icha: Jadi kamu nggak ngerasa related sama The Lobster, Dar?

Darma: Yang related itu... Anggaplah hutan itu arena bermain game. Atau dunia blog. Dunia si siapa gitu yang bikin dia dan dianya menyembunyikan hubungan. 

Icha: Hahaha. Fak. Oke, jadi apakah film ini worth it buat ditonton, Pak? 

Darma: Worth it. Karena film ini bikin kita mikir. Dikemas dengan hal-hal yang ekstrem, yang nggak standar. The Lobster bikin otak jalan. 

Icha: Dan... kamu nggak nyesel udah nonton ini?

Darma: Nggak nyesel. Cuma harus bersabar di satu jam pertama. Konflik di satu jam pertama belum dapet. Yang seterusnya baru ada konfliknya yang menarik. Btw gue masih penasaran kenapa judulnya The Lobster. Cuma karena David pengen jadi The Lobster? Menurut gue mungkin kalau judulnya gitu, harusnya kisah cinta mereka mirip kayak kisah cinta lobster. Eh kayak gimana deh kalau lobster itu jatuh cinta?

Icha: Entah. Lah ini aku jadi kepikiran sama Raditya Dika. Satu, Radit kan suka bawa-bawa jomblo. Dua, ngasih judul dengan nama jenis binatang dan ngehubungin kisah cintanya dengan pola hidup seekor binatang yang dijadiin judul novelnya. Yorgos Lanthimos itu versi ekstremnya Raditya Dika. 

Darma: Hahaha. Bisa bisa. Mungkin Yorgos fansnya Raditya Dika? 

Icha: Hahaha. Bisaaaaa.

Darma: Ini gue mau tanya deh. Lu kalau nonton film, suka yang tokoh utamanya gitu ya? YANG KAYAK OM-OM.

Icha: HAHAHA. Nggak gitu. Ya aku liat ceritanya lah!

Darma: Berkumis tebel, kacamataan, gempal. Hahahaha. Theodore Her sama David mirip tuh.

Icha: Anjir. Aku nggak, ah-mau-nonton-film-om-om-ah. ENGGAAAK. 

Darma: Bahahaha.

Icha: INI KENAPA JADI AKU YANG DI-BULLY SIALAAAAN. 

Darma: Lu niatnya jelek sih. Mau nge-bully gue. Rasakan. HAHAHAHA.


Abaikan ketawa jahat Darma. 

Kesimpulannya, The Lobster adalah film romantis terbaik bagi yang suka sebuah kisah cinta disajiin dengan cara absurd dan aneh. Mungkin (dan kayaknya pasti deh) jadi film konyol bagi penyuka genre drama romantis normal. 

The Lobster menyajikan kemungkinan terburuk menjadi jomblo. Kemungkinan terburuk menjadi orang yang pura-pura cinta cuma supaya nggak ngejomblo lagi. Kemungkinan terburuk berkorban demi cinta supaya cinta itu terlihat normal di hadapan banyak orang. 

Dan semoga postingan ini terlihat normal. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

POSTINGAN YANG LAKU

BLOG BINAL INI DILIHAT BERAPA KALI?

PARA PENGETIK YANG TERJERUMUS

TRANSLATE

YANG PUNYA KEHIDUPAN TERKETIK

Foto saya

Makhluk Tuhan yang diduga kuat pengidap alzheimer kelak di hari tua, Makanya suka nulis, menceritakan apa yang perlu maupun yang gak perlu, sebuah kebiasaan yang diimpikan akan jadi sebuah kesuksesan. Moody-an, tapi disitu ngerasa masalah yang bikin mood jelek itu jadi sumber ide untuk nulis. Terobsesi untuk gendut, agar gak cuman kentut sama rindu aja yang ngumpul di badan. Si masokis yang terima saja dihujat pacar sendiri, dan tak lupa menghujat balik, lewat blog ini.
Copyright © TERKETIK | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com